Kitab Al-Hikam : Insan Terjaga

Posted: 14 Juni 2015 in Opini

Kitab Al Hikam

“Aku menulis dan aku yakin pada saat aku menulisnya tanganku kan lenyap, namun tulisan tanganku kan abadi..”

Perjalanan jiwa seorang anak manusia dalam mencapai Sang Khalik bukanlah perjalanan mulus. Banyak duri menghadang di jalan yang berliku-liku. Tak hanya itu, hempasan badai juga siap melemparkan seorang salik (penempuh jalan) dari tujuan mulianya. Maka, hanya orang-orang yang berilmu dan berhati baja yang sanggup melewati jalan tersebut, mendaki sampai puncak kemenangan, menghadap Al-Haq Sang Pencipta. Mereka bergeming dari berbagai godaan di dunia, tak mau terjebak dalam kehidupan berbalut syahwat di alam fana.

Untuk menuntun setiap salik agar tetap bertahan di jalan menuju Sang Khalik itu, ulama besar Syeikh Ibn ‘Atha’illah menghadirkan Kitab Al-Hikam ini. Dengan sandaran utama pada Al-Qur’an dan as-Sunnah, guru besar spiritualisme ini menyalakan pelita untuk menjadi penerang bagi setiap salik, menunjukkan segala aral yang ada di setiap kelokan jalan, agar kita semua selamat menempuhnya.

Matan Al-Hikam, kitab setebal 558 halaman ini, adalah sebuah karya yang ringkas, menggugah  dan penuh makna, syarahnya yang panjang dan tak habis-habis. Al-Hikam patut menjadi pelajaran para penulis atau pembicara agar tidaklah tertuang satu kalimat kecuali yang padat manfaat. Tulisan bergizi tidak sibuk berindah-indah tapi lupa pada hujjah. Tapi tidak pula abaikan cara bertutur sehingga pembaca sulit mengunyah. Karya bergizi, dibaca yang awam ia mencerdaskan dan memahamkan, sementara dibaca yang berilmu ia mencerahkan dan tak membosankan. Sebuah karya yang bergizi terasa ringan karena bagusnya cara bertutur dan berbobotnya isi. Maka, asyiklah membacanya dan tak membosankan. Tapi tak setiap yang mengasyikkan saat membaca, bukan jaminan bergizi. Maka, periksa hujjahnya. Sungguh, penulis yang berharap betul barakah dari tulisannya, ia tak segan mematut diri berlama-lama agar pena tak menebar kesalahan. Mereka menulis apa yang penting, bukan yg menarik. Maka mereka tak sibuk memuji karya sendiri. Tidak pula menyibukkan diri memikat orang, apalagi untuk membenci atau sekadar menilai kelemahan. Kebaikan telah memenuhi seluruh jiwa raga mereka. Ah, dimana maqam kita..?

Baca entri selengkapnya »

Mencintai Malam

Posted: 19 September 2014 in Opini, Renungan

Aku mencintai malam, melayari sayap-sayapnya dengan menulis dan menikmati lantunan Cinta Seorang Kekasih nya Maidany atau irama syahdu Fukai Mori seperti ini serupa diberi sepotong syurga berlinangan madu. Seperti seorang bocah kecil yang menemukan rumah kayunya di pinggir sungai berbatu-batu. Asyik bersunyi dengan rasa yang entah kunamakan apa. Hanya aku dan aksara.

Aku dan malam adalah tak berbeda dengan tak sedikit insan yang karib padanya. Menuliskan banyak hal, hal yang berdesak-desakkan di benak, hal yang berhimpitan dalam rasa. Yang sering tak mungkin kuungkapkan dalam lisan atau tak bisa kulukiskan dalam bahasa perbuatan.

Pada kanvas malam, kutuliskan apa saja yang kuingin menjadi. Tak sebatas khayal, kugoreskan segala impian pada gugusan aksara, menjadikannya galaksi kisah-kisah yang berrotasi pada sumbu imajiku. Acapkali banyak hal yang ingin kuterjemahkan dalam barisan pasal, hanya sekedar untuk  mewujudkan bayanganku tentang kasih dan cinta. Atau, tak sedikit perihal yang ingin kusketsa agar dapat mendzahirkan rekaanku tentang duka nestapa. Hingga gema adzan shubuh mengingatkanku, bahwa gulita telah berlalu.

Namun, sering malamkupun hanya berarti secangkir susu hangat dan beberapa buku yang tak tuntas kueja. Hanya membuka-buka halamannya, dan menikmati ilustrasinya, atau sekedar mengagumi kata pengantar dan kesimpulannya saja. Ya, sering malamku sesederhana itu. Yang acapkali kudapati dari yang sederhana itu tersimpan apa yang dikata orang tentang kebahagiaan. Kebahagiaan yang mungkin tak bisa kutemukan pada riuh keramaian.

Adalah kisah-kisah malam tentang munajat cinta yang dilarung insan dalam gelombangnya yang tenang. Diantara thawaf sang tasbih dalam jemari dan teritis air mata yang bermuara di sajadah suci. Aku, dalam kemarau imanku dan meranggasnya reranting ilmuku, dengan hati malu turut hadir dalam syahdunya kelam, bersama rembulan adukan segala kelemahan dan permohonan ampunan atas segala kekhilafan. Kepada Sang Pemilik Alam bertangisan tersedu sedan. Sungguh, ada hal yang tak bisa dilakukan siang sebagaimana yang telah dilaksanakan malam.

Aku mencintai malam, mengutip kelembutan heningnya yang berdaya maha. Memetik kembang-kembang hikmahnya yang bergelantung  di semesta nan tinggi. Mengayuh biduk nan lelah untuk menepi.

Baca entri selengkapnya »

Sejenak Hening

Posted: 18 Agustus 2014 in Kata Bijak, Opini, Renungan
Tags: ,

Kita berada dalam era keriuhan. Kita ditarik secara tak sadar ke dalam dua kehidupan, maya dan nyata. Sebagai makhluk sosial, kita hampir-hampir melupakan diri sendiri tersebab harus berada dalam dua dunia itu untuk memenuhi segala panggilan tuntutan keeksisan.

Dalam era keriuhan, kita butuh keheningan sejenak.

Keheningan sejenak mengajarkan kita untuk kembali mengenali diri. Keheningan memberikan tawaran kesempatan bagi diri untuk kembali sadar, bahwa banyak keping kebahagiaan yang telah kita lepas begitu saja. Kita kehilangan banyak sadar untuk menikmati hari-hari dengan penuh kedamaian dan kenikmatan.

Dalam era keriuhan, kita butuh bersejenak dalam hening. Bersejenak dalam hening mengantarkan kita kepada ketaktergesa-gesaan untuk menyikapi hari demi hari dengan ambisi yang menggalaukan, dan kenangan masa lalu yang mencekam langkah untuk menggamit banyak kebaikan di masa depan. Hingga diri terlupa bahwa hari ini tercipta untuk dinikmati indahnya.

Berheninglah sejenak. Bersejenaklah dalam hening. Akan banyak makna dan keindahan dalam hidup yang kita dapatkan… Baca entri selengkapnya »

Aku Introvert

Posted: 25 Januari 2014 in Opini

Suatu waktu engkaupun bertanya. “Bertahun lamanya bersama, melewati hampir segala hal, menyaksikan segala peristiwa. Tapi, semacam ada kisah terputus, tak berkelanjutan, tak terkisah.” Lalu dengan menundukkan hati, padamu aku sampaikan. “Sesungguhnya sekarang kita hidup dalam bangsa yang sakit, tidak memikirkan kecuali tentang diri mereka sendiri. Yang hanya ingin mereka tahu, bahwa masih ada sekelompok manusia yang berbuat, bekerja memperbaiki umat, hingga kelak akhirnya mereka meyakini kebenaran agama ini. Maka, tak perlu perlihatkan apa yang telah kita korbankan, rasa sakit yang lama tertahan, dan pundak yang penuh beban. Cukuplah mereka menyaksikan apa yang mampu kita lakukan, maka lakukanlah yang terbaik. Dan karena engkau mempersaksikan bahwa aku adalah saudara yang kau cintai karena Allah, maka kuharap engkau adalah orang yang terlebih dahulu memahami dibandingkan siapapun. Dan saksikanlah, bahwa aku juga mencintaimu karena Dzat yg menjadikanmu mencintaiku karena Allah..” Baca entri selengkapnya »

Buya Hamka dan Pram

Posted: 2 Januari 2014 in Opini

Originally posted on KAMMI MADANI:

b1Beberapa waktu lalu saya memang getol membacai karya sastra Pramoedya Ananta Toer meski baru sekian kelumit dari banyaknya buku yang ia tulis. Semangat atas asupan dari tulisan Pram membuat saya semakin giat membaca karya sastra yang saya akui baru-baru ini saja saya hinggapi.

Saya percaya tidak ada suatu kebetulan di dunia ini. Nah, usai membaca sekitar empat karya Pram saya beranjak membaca buku berjudul ‘Ayah..’ karya Irfan Hamka, anak Buya Hamka. Ternyata oh ternyata dalam tulisan yang mengulaskehidupan sosok luar biasa seperti Buya Hamka tertera juga sedikut ulasan mengenai hubungan Pram dan Hamka pada masa mereka masih hidup.

Saya bukan sekali dua kali mendengar bahwa sosok Pram merupakan pentolankomunis (PKI) yang menggawangi bidang sastra. Meski belum mendalam, saya jugapernah mendengar dan sedikit tau tentang Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang dinahkodai Pram sendiri. Namun latar belakang ini bagi saya tidak baik untuk dijadikan penghalang kita membacai karya-karyanya. Framing awal terhadap penulis…

Lihat yang asli 527 kata lagi

Sabar

Posted: 23 November 2013 in Dakwah, Renungan

Sabar itu suatu kemanisan. Sukar ditepis saat teruji. Namun, karena kesabaran itu, ia mengajar arti ketabahan..

Sabar juga mengajar arti memahami. Karena kesabaran itu mendidik untuk berakhlak..

Melalui kesabaran itu, aku belajar menghargai.. Dari titik kesabaran itulah aku mengenal arti pekerti..

Rasulullah SAW seorang yang penyabar. Walau ramai ujian dan rintangan dalam menyebarkan dakwah, baginda tetap sabar dan istiqomah dalam perjuangan..

Aku hendak meneladani akhlak Ar-Rasul, sebenar-benarnya tauladan, suri tauladan kehidupan sepanjang zaman.

Mengapa perlu mengeluh saat teruji? Sebab, kebiasaan mengeluh dengan sesuatu yang sebenarnya masih dalam kemampuan kendali, hanya akan membuatmu semakin terpuruk saat diuji dengan sesuatu yang mampu melemahkanmu.. Baca entri selengkapnya »

Random #10

Posted: 19 Oktober 2013 in Opini

Aku memang menjauh,
Tapi hatiku masih terpaut, di tempat yang sama
Seperti yang pernah ku katakan padamu
Nanti, aku akan kembali lagi
Menemui yang ku harap masih tegar di sana

Ya, ini bukan selamat tinggal
Tapi sampai jumpa lagi… Baca entri selengkapnya »