Tatsqif : PEMILU Menurut Islam

Pemilu dan Partai Politik
(Yd. I)

Rasulullah SAW dan para shahabat tidak pernah ikut pemilu dan berpartai sebab pemilu dan partai belum ada dan hanya merupakan perkembangan politik seiring berkembangnya zaman. Namun sebagian umat Isalam termasuk beberapa ulama mengharamkan berpartai termasuk mengikuti pemilu, mereka beralasan bahwa partai, demokrasi, dan pemilu merupakan karya dari orang-orang kafir. Sebagian dari mereka sampai mengeluarkan statemen unik, yaitu bahwa ikut pemilu dan menjalankan partai merupakan sebuah bid’ah dhalalah, di mana pelakunya pasti akan masuk neraka. Alasan tersebut tidak bisa dijadikan dalil yang sharih untuk mengharamkannya.

Memang tidak ada satu pun ayat Quran atau hadits nabi SAW yang secara zahir mengharamkan partai politik, pemilu atau demokrasi, namun demikian tidak ada pula dalil yang shahih yang membolehkannya semuanya berangkat dari istinbath hukum yang cukup panjang, tidak berdasarkan dalil-dalil yang tegas yang dapat langsung dipahami.

Banyak ulama yang berpandangan luas dengan melihat ralitas perkembangan politik dan zaman. Di antara para ulama yang memberikan pendapatnya tentang kebolehan atau keharusan dakwah lewat parlemen antara lain:

1. Imam Al-’Izz Ibnu Abdis Salam
2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
3. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
4. Muhammad Rasyid Ridha
5. Syeikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa’di: Ulama Qasim
6. Syeikh Ahmad Muhammad Syakir: Muhaddis Lembah Nil
7. Syeikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi
8. Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
9. Syeikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin
10.Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-AlBani
11.Syeikh Dr. Shalih bin Fauzan
12.Syeikh Abdullah bin Qu’ud
13.Syeikh Dr. Umar Sulaiman Al-’Asyqar
14.Syeikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq

Sumber: percikaniman.org

Sebagian ulama tersebut memandang bahwa bila hal itu (partai, pemilu, dan demokrasi) merupakan salah satu jalan sukses menuju kepada penegakan syariat Islam, maka hukumnya menjadi wajib.

Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap amal itu tergantung pada niatnya. Setiap orang mendapatkan apa yang diniatkannya. Oleh karena itu tidak ada masalah untuk masuk ke parlemen bila tujuannya memang membela kebenaran serta tidak menerima kebatilan. Karena hal itu memang membela kebenaran dan dakwah kepada Allah SWT.

Begitu juga tidak ada masalah dengan kartu pemilu yang membantu terpilihnya para da’i yang shalih dan mendukung kebenaran dan para pembelanya, wallahul muwafiq. Lagi pula sekarang kalau bukan umat Islam siapa lagi yang akan memilih wakil-wakil kita di DPR yang akan memperjuangkan kejayaan Islam pada masa yang akan datang.

Wallahu A’lam.

—-ooOoo—-

3 comments on “Tatsqif : PEMILU Menurut Islam

  1. Demokrasi adalah agama…sedangkan pemilu adalah jalan menuju demokrasi…Apakah dari dulu hingga sekarang syariat tegak dengan pemilu seperti ini…kita cuma jadi bahan mainan para penguasa yang tidak ngerti agama…ngertinya cuma uang…uang…dan uang…lihat yang pada gila ampe mati gra2 g jadi caleg…

  2. Demokrasi tdk perlu diperdebatkan sbg ideologi, tp lbh sbg hak asasi manusia yg hrs direbut; intinya kebebasan itu. It is the society, not the system. Kualitas kt sbg masyarakatlah yg menentukan maju tidaknya negara..bkn sistemnya. Jd demokrasi adalah ruang kosong yg bs diisi dgn semua konten..tp kapasitas kt sbg bangsa tdk berhubungan dgn itu semua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s