Penyakit Kronis Itu Bernama : Plagiarisme Tak Bermoral

(Sebuah otokritik dunia Akademisi : Mahasiswa & Dosen)

Krisis moral terjadi di mana-mana. Mencuatnya berbagai kasus korupsi, terutama kasus mafia hukum atau praktik makelar kasus terakhir ini, telah menunjukkan betapa moralitas kita sebagai anggota masyarakat, bangsa dan negara sangat memprihatinkan. Saat kasus para penegak hukum tengah dihebohkan akibat  diungkap oleh Komjen Polisi Susno Duadji, tiba-tiba muncul pula kehebohan tentang plagiarisme di dunia kampus. Dan masalah ini menjadi bahan diskusi menarik di berbagai kalangan, pasca terungkapnya tulisan seorang guru besar salah satu universitas yang mengirimkan tulisan di media massa yang ternyata adalah jiplakan karya seorang penulis lain. Dan tersangka sudah mengakui perbuatan tercelanya dan dia yang sempat menjadi dosen berstatus CPNS sudah mengundurkan diri, sebelum mau dipecat. Pandangan masyarakat kemudian menuding dunia pendidikan, sebuah lembaga yang menurut masyarakat berisi orang-orang kompeten dan jujur, telah melakukan tindakan terlarang. Masyarakat mengecam dunia pendidikan, yang adalah dunia yang harusnya jauh dari urusan jiplak-menjiplak, telah tercemar. Beberapa argumen menuding lembaga pendidikan kita telah kehilangan arah.

Kasus plagiarisme yang terjadi di kalangan akademis merupakan masalah akut. Tentu saja ini memprihatinkan mengingat kalangan akademis semestinya adalah pihak yang paling serius dalam mengaplikasikan etika penulisan ilmiah. Banyaknya plagiarisme menunjukkan lemahnya kontrol, penegakan, dan barangkali, pendidikan seputar etika akademis. Dan juga, di sisi lain, memperlihatkan lemahnya kreativitas berpikir (sehingga perlu menjiplak pemikiran orang lain), merajalelanya keserakahan (demi mengejar nama besar, kredit point, atau gelar), dan tentu saja, ketidakjujuran plus kemalasan yang memalukan. Malas dalam berpikir, berusaha, berlogika, menganalisis, atau mencari sumber-sumber yang kredibel. Maunya serba tersedia, tanpa repot-repot berpikir!

Plagiarisme sendiri adalah tindakan menjiplak, mengkopi, sebagian atau keseluruhan karya tulis orang lain. Pengutipan tulisan atau pendapat orang lain sesungguhnya dibolehkan tapi dengan ketentuan harus menyebut sumbernya. Bila hal itu dilanggar maka merupakan pelanggaran berat, menyangkut etika dan moral yang sanksinya sangat berat dalam dunia tulis menulis.

Dalam dunia pendidikan (akademisi), masalah plagiarisme merupakan tindakan yang dapat disetarakan seperti kasus pidana dalam dunia hukum. Undang-undang dan kode etik dunia akademisi melarang keras perbuatan plagiarisme. Artinya, plagiarisme dapat disebut sebagai tindak kejahatan dalam masyarakat ilmiah meski sanksinya tidak harus masuk penjara. Masalah plagiarisme mungkin terkait dengan Hak Atas Kekayaan Intelektual, meski hanya dalam bentuk produk tulisan. Tindakan plagiarisme yang baru saja mencuat sudah jelas sangat memalukan!

Plagiarisme disamakan dengan kegiatan mencuri. Tindakan ini bila dilakukan oleh mahasiswa dan dosen atau kaum ilmuwan sama saja dengan perbuatan sangat memalukan, amoral, meruntuhkan wibawa dan kehormatan pelaku, bahkan dapat berimbas pada lembaga di mana pelaku berada. Karena itu, keluarga besar universitas yang menjadi korban plagiarisme tadi, termasuk para alumninya merasa sangat tercemar gara-gara kasus plagiarisme ini. Sanksi yang diterimanya sangat berat, bukan saja yang bersangkutan tidak dibolehkan lagi beraktifitas di kalangan masyarakat ilmiah tetapi juga gelar yang bersangkutan dapat dicopot bila penelitiannya pun terindikasi plagiarisme!

Plagiarisme bisa disengaja atau tak disengaja. Akan tetapi, disengaja atau tidak, plagiarisme tetap menuai sanksi. Sanksi internal disesuaikan dengan konvensi institusi yang berlaku, mulai dari pencabutan gelar, pembatalan atribut / jabatan akademis tertentu, atau penundaan promosi. Sanksi sosial dijatuhkan bukan oleh institusi, melainkan publik eksternal. Nah, ini yang berat, walaupun sanksi internal telah dijatuhkan, sulit sekali mengembalikan kredibilitas dan citra institusi yang telah tercoreng.

Lantas, mengapa plagiarisme tetap masih terjadi, padahal aturan sudah dibuat sedemikian rupa? Penulis menengarai praktik plagiarisme subur karena menjadi dasar kenaikan pangkat. Artinya, praktik plagiarisme bukan barang baru, bahkan jangan-jangan sudah banyak dilakukan di perguruan tinggi. Para dosen yang mau meningkatkan status pangkat akademik antara lain diharuskan memiliki karya ilmiah, baik itu berupa buku, makalah atau karya tulis yang di antaranya dipublikasikan di jurnal atau media massa. Karena ini didorong oleh semangat publish yang menjadi dasar kenaikan pangkat, sehingga orang menempuh segala cara untuk menerbitkan karya ilmiah tanpa memperhatikan pertimbangan moral.

Penulis mengusulkan perlu ada gerakan moral di kampus untuk menghindari kejadian serupa terulang. Melihat  berbagai kasus plagiarisme selama ini, tampaknya sanksi terhadap pelaku plagiarisme tidak membuat orang takut melakukan tindakan serupa. Tindakan pemecatan dan pencopotan gelar juga tidak membuat takut pelaku plagiarisme. Oleh karena itu, selain tindakan preventif lewat pengawasan yang ketat oleh institusi dan dosen pembimbing, perlu juga dilakukan kampanye serta penyebarluasan anti tindakan plagiarisme.

Bagi publik di luar institusi, plagiarisme di sebuah institusi memperlihatkan lemahnya kontrol terhadap penegakkan etika akademis. Lebih jauh lagi, kasus plagiarisme biarpun cuma atau baru sekali terjadi akan memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang bergulir bagai bola salju bagaimana dengan kualitas publikasi atau karya akademis lainnya? Bukan tidak mungkin, karya yang sudah ada selama ini juga dihasilkan dari plagiarisme. Kalau sudah begini, bisa dibayangkan betapa besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk memeriksa karya-karya lainnya sebagai bentuk pertanggungjawaban publik.

Mengakhiri plagiarisme bukan hal mudah, tetapi bukan berarti tak bisa dilakukan. Pertama, perlu ada rambu-rambu yang jelas mengenai apa yang dianggap sebagai plagiarisme, dan mana yang bukan. Rambu-rambu ini harus disosialisasikan kepada setiap anggota lembaga, entah itu institusi akademis ataupun nonakademis. Kedua, perlu ada komitmen lembaga untuk penegakkan etika akademis yang di dalamnya mencakup pencegahan plagiarisme. Ini berarti, lembaga harus memiliki mekanisme pengontrolan yang jelas, termasuk pemberian sanksi kepada para plagiator. Sanksi ini perlu dikomunikasikan kepada publik sebagai bentuk pertanggungjawaban publik, sekaligus upaya memperbaiki citra dan reputasi yang tercoreng. Ketiga, konsistensi gerakan atau aksi antiplagiarisme. Ini yang penting. Gerakan pembersihan plagiarisme tidak boleh dilakukan setengah-setengah, apalagi angat-angat tahi ayam. Penegakkan etika ilmiah atau etika akademis mesti menjadi norma lembaga yang tertanam pada setiap anggota institusi.

Bagaimanapun dalam upaya membangun moralitas masyarakat, bangsa dan Negara, harus dimulai dari dunia pendidikan, terlebih lagi perguruan tinggi, tempat kaum ilmuwan dan mahasiswa berada.

Mahasiswa saya sebut sebagai motor utama perubahan revolusioner multidimensi kehidupan manusia. Sejak dari persoalan temuan ilmiah hingga kritik ideologi, sejak dari yurisprudensi hingga kebertuhanan. Mahasiswa, sudah selayaknya terpanggil memenuhi kodratnya sebagai para pembaharu zaman yang terkadang memang membutuhkan semangat “out of the box.” Mahasiswa, bukan penghuni menara gading yang sibuk menghiasi menara itu dengan ornamen-ornamen pesolek hingga jejaring sosial online yang terlepas dari “bumi”. Bersama-sama dengan segenap elemen masyarakat, mahasiswa menyuarakan perubahan sekaligus membangun peradaban secara lebih bermartabat.

Apa jadinya jika mahasiswa (dan juga dosen barangkali?), membudayakan plagiarisme dalam tulisan-tulisannya? Mengutip itu lazim, tetapi menyontek? Inilah highest crime di dunia akademik: aliran copy-pasteisme yang seharusnya dicegah penularannya.

Lantas pertanyaan yang muncul. Tindakan tegas apa yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa jika kita menemukan kasus plagiarisme di sekitar kita?

4 comments on “Penyakit Kronis Itu Bernama : Plagiarisme Tak Bermoral

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s