Partisipasi Politik dan Regenerasi Kepemimpinan

Ada beberapa salah kaprah yang berkembang di kalangan mahasiswa & masyarakat dalam memahami karakter kehidupan politik. Saya akan menyebut beberapa contoh saja.

Pertama, anggapan bahwa politik adalah dunia yang kotor. Anggapan ini jelas tak salah seluruhnya, hanya saja kurang lengkap. Kita mengenal sebuah ungkapan terkenal dalam dunia politik : “Kekuasaan cenderung korup/rusak, dan kekuasaan yang diselenggarakan secara mutlak akan korup secara mutlak pula!”.

Pandangan ini sebetulnya mewakili paham realis/pragmatis tentang politik. Dalam dunia real, politik memang arena dimana korupsi dan penyimpangan kerap terjadi. Semua orang -tak peduli beragama atau tidak- akan rentan terjebak dalam ‘hukum besi politik’ semacam itu. Karena itu, tak salah seluruhnya manakala publik punya persepsi bahwa politik adalah kotor.

Yang kurang tepat adalah melakukan demoralisasi atas kenyataan politik yang kotor semacam itu. Di sini, moralisasi berarti melihat kenyataan dari sudut pandang moralitas berdasarkan hukum baik-buruk. Ujung sikap semacam ini cenderung merendahkan dunia politik, sebab ia adalah dunia kotor yang kurang bermartabat. Mereka yang masuk dalam sektor itu dilihat dengan sinis dan skeptis!.

Sikap yang lebih tepat adalah realisme-kritis. Dengan sikap ini, kita mengakui watak politik yang memang bisa disalahgunakan dan dikorupsi. Justru karena itu, politik dan kekuasaan haruslah dikontrol, bukan dijauhi dan dipandang rendah.

Mekanisme kontrol itu, dalam sistem demokrasi di Indonesia (catatan : saya tidak akan memperdebatkan tentang sistem apa yang paling baik di sini) dilembagakan melalui institusi “check-and-balance”,  yakni proses saling mengontrol antara lembaga-lembaga di dalam dan luar kekuasaan, dalam hal ini negara. Melalui mekanisme inilah terjadi proses saling mengimbangi antara satu lembaga dan lembaga lain, semisal lembaga legislatif dengan eksekutif, pemerintah dengan media massa, eksekutif dengan kekuatan-kekuatan masyarakat sipil, dan lain sebagainya.

Demokrasi modern didasarkan pada “su’udzan” atau prasangka buruk pada watak kekuasaan yang cenderung korup, dan karena itu harus dikontrol dengan ketat, bukan dibiarkan dan dijauhi. Melalui kontrol ini, keliaran dan kejahatan yang secara intrinsik terdapat dalam kekuasaan dan politik bisa dijinakkan pelan-pelan. Melalui kontrol itu, politik/kekuasaan mengalami proses penghalusan & perbaikan.

Setelah reformasi, kita melihat proses pelan-pelan ke arah penghalusan ini. Negara otoriter -yang bisa memenjarakan warga negara secara sewenang-wenang seperti saat era Orde Baru- misalnya, pelan-pelan mulai bisa ‘dijinakkan’ setelah era reformasi. Kalau pun terjadi penyalahgunaan kekuasaan, saat ini kita bisa melakukan kritik terbuka. Media massa kita -baik cetak atau elektronik- punya kebebasan penuh untuk melakukan kritik dan kontrol atas segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power). Di sini, terjadi proses penghalusan watak kekuasaan dan politik melalui mekanisme kontrol dan kontra-kontrol.

Proses penghalusan ini memang tak bisa berlangsung secara mendadak; butuh proses yang panjang. Tetapi, kemajuan telah kita lihat di berbagai sektor menuju ke arah penghalusan watak kekuasaan. Jadi, politik memang cenderung korup, tetapi politik juga bisa dikoreksi terus-menerus, dan karena itu diperbaiki. Ini biasanya terjadi dalam demokrasi yang terbuka seperti kita alami sekarang ini.

Kedua, mempersoalkan motif seorang aktor politik saat berbuat hal baik sama sekali kurang relevan. Jika ada kelompok politik atau komunitas politik tertentu melakukan kegiatan sosial, misalnya, jelaslah tak relevan bersoal apakah kelompok itu melakukannya secara jujur atau karena politik pencitraan saja. Yang lebih penting, masyarakat mendapat manfaat dari tindakan itu.

Motif, image atau citra, tidak seperti dipahami oleh banyak kalangan saat ini, adalah salah satu dimensi penting dalam politik modern, apalagi dalam demokrasi terbuka seperti sekarang. Dalam sistem yang otoriter, pencitraan mungkin tak diperlukan, karena tak ada kompetisi yang sehat di sana. Semua hal dimonopoli oleh kekuasaan yang terpusat. Aktor politik tunggal dalam sistem otoriter tak membutuhkan politik pencitraan, sebab dialah pemegang satu-satunya kendali kekuasaan, tanpa kompetitor.

Ini berbeda dengan keadaan dalam sistem yang terbuka. Di sana ada kompetisi yang keras, persis seperti dalam pasar bebas. Untuk meraih dukungan, aktor politik dihadapkan pada keharusan untuk memperbaiki citra. Begitu citra merosot, jelas dia akan kehilangan dukungan. Dalam sistem terbuka, aktor politik tidak bisa memaksa publik -misalnya dengan senjata atau bentuk kekerasan lainnya- untuk mendukungnya. Satu-satunya cara untuk meraih dukungan dalam sistem yang kompetitif-terbuka adalah dengan membujuk publik (public persuasion) dan memperbaiki citra. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memperbaiki citra: dengan tawaran program yang baik dan masuk akal, atau kebijakan kongkrit yang menguntungkan publik luas.

Di sini, saya pribadi ingin mengajak kawan-kawan aktivis mahasiswa untuk kembali mencermati dan memahami peran penting kita dalam partisipasi politik di dunia kemahasiswaan. Jujur, sampai kapanpun, setiap permasalahan yang kita temui -baik di kehidupan masyarakat ataupun di dunia kampus- tidak akan bisa deselesaikan dalam dimensi wacana argumentatif semata. Harus ada dimensi aktualisasi peran, yang menunjukkan kepedulian dan pembelaan terhadap hak-hak sipil -masyarakat dan mahasiswa- yang makin hari semakin kompleks.

Saya khawatir, ketika tingkat partisipasi politik di kalangan mahasiswa sendiri sudah menurun demikian drastis, yang pada akhirnya muncul benih-benih apatisme -dengan sikap tidak peduli- terhadap permasalahan-permasalahan yang ada. Pemimpin-pemimpin seperti apa yang kelak akan dilahirkan nanti? Bisa jadi suatu saat seorang presiden mahasiswa ataupun gubernur mahasiswa dilantik hanya karena tidak ada lagi yang akan menggantikan, karena ketidakpahaman akan peran kita dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang semakin rumit, yang hanya bisa diwujudkan dalam partisipasi aktif kita dalam dunia perpolitikan kampus.

Kita juga masih dibingungkan dengan pertanyaan, karakter kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan saat ini? Jika tidak tahu, ini bahaya! Bagaimana mungkin kelak seorang pemimpin yang dipercaya oleh sipil, memberanikan diri untuk dipilih, tetapi tidak jelas dengan karakter, arah dan tujuannya gerakannya. Pemimpin seperti ini bisa saja menjalankan sistem kekuasaan, meyakinkan publik dengan program-programnya yang bermanfaat, tapi dirinya sendiri tidak memiliki arahan agenda yang jelas. Agenda-agenda yang dilaksanakan hanya sebagai tuntutan, bukan sebagai tahapan untuk mencapai tujuan yang lebih besar.

Maka dari itu, yang dibutuhkan saat ini adalah regenerasi kepemimpinan. Mengapa regenerasi? Ya, seorang pemimpin yang sukses, bukan karena keberhasilannya dalam melaksanakan agenda-agenda yang besar, atau yang sukses menyelesaikan permasalahan yang demikian rumit. Akan tetapi pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang berhasil membangun tim yang efektif dan mempersiapkan generasi kepemimpinan selanjutnya yang sama kualitasnya atau lebih baik.

Beberapa saat lagi, kita akan kembali melalui proses transisi kepemimpinan. Peralihan dari kepemimpinan yang lama dan akan digantikan dengan yang baru, demikian seterusnya, proses ini akan terus berlanjut. Wacana-wacana berfikir yang coba dikembangkan dan diterapkan dalam usaha untuk menyelesaikan permasalahan yang ada, sekarang akan dievaluasi, sampai sejauh mana tingkat keefektifitasannya. Tugas ini adalah kewajiban bagi seluruh pihak yang berkepentingan di dalamnya.

Mari kita menjadi generasi optimis yang senantiasa melihat kesempatan dalam setiap permasalahan, bukan generasi pesimistis yang selalu melihat masalah dalam setiap kesempatan. Bukan pula generasi pragmatis- oportunis yang selalu mencari keuntungan, tidak akan mau berbuat jika tidak memberikan kebermanfaat, atau yang lebih menyedihkan generasi apatis yang sama sekali tidak pernah mau peduli dengan semua permasalahan.

Untuk itu, partisipasi dan peran dari semua elemen mahasiswa dan civitas akademika yang ada begitu sangat dibutuhkan. Siapapun kelak pemimpin baru yang akan terpilih, harapan kita akan mampu membawa perbaikan, bukan dalam konteks wacana saja, tapi menjadi sebuah solusi yang konkrit dalam menyelesaikan bagi setiap permasalahan yang ada. Budayakan kompetisi yang sehat, bersaing dalam usaha memberikan kontribusi yang terbaik, bukan saling menjatuhkan. Berangkulan tangan dalam usaha bersama-sama memberikan kebermanfaatan dan tetap menjaga solidaritas dan kerukunan. Semuanya harus siap menang dan siap juga untuk kalah. Tetap rendah hati ketika terpilih, namun tetap berlapang dada ketika tidak terpilih.

Diskusi lebih jauh, follow twitter :

@septa_ryan

*Catatan lama momentum Pemira

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s