Re : Nik*h. Part 1

Nikah. Apa yang pertama kali muncul sebagai reaksi kalau saya tulis kata nikah?. Tidak, ini bukan tulisan yang menggambarkan “keterburu-buruan” menikah. Bukan, bukan itu. Ini tulisan hanya tuangan dari kepahaman saya selama ini, juga apa yang saya tahu tentang kata itu, Nikah. Ini juga sebagai salah satu persiapan saya menuju ke sana, sebab seorang ustadz saja menyiapkan dirinya selama 5 tahun sebelum menikah. Saya? 5 tahun lagi..? Hmm.. kita lihat saja nanti..🙂

Waktu masih duduk di bangku sekolah, ada satu bab pelajaran agama mengenai hal ini, Munakahat. Bagaimana ia menjadi wajib, bagaimana ia menjadi sunnah, bagaimana ia menjadi makruh, bahkan bagaimana ia menjadi haram untuk di lakukan. Menarik ketika satu amalan bisa bertransformasi menjadi segala hukum dalam pengamalannya. Dan itulah salah satunya, Nikah. Satu amal, bisa berbeda-beda hukum, bergantung pada kondisi seseorang itu sendiri. Dan nikah selalu di kaitkan dengan kata puasa. Ingin namun belum mampu, silakan berpuasa.

Ada satu susunan kalimat indah yang saya pegang, seingat saya ini ada di buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan nya Ustadz Salim, saya kurang hafal betul susunannya, namun kira-kira begini; masa lajang kita itu masa berpuasa, yang sepanjang perjalanannya kita menahan diri dari segala sesuatu yang di haramkan. Sedangkan puasa itu sendiri, terdapat dua kenikmatan di dalamnya, saat sahur dan waktu berbuka. Ketika itu saya berfikir, ‘kapan waktu sahur kita?”, agaknya sahur kita adalah sebelum kita melakukan puasa sepanjang hidup ini, saat kita masih berupa ruh, saat kita bersaksi bahwa Allah lah Illah yang berhak di sembah. Agaknya, waktu sahur kita adalah saat kita di tetapkan 4 hal, salah satunya jodoh yang kini kita ‘lupa’, siapakah dia. Sedangkan waktu nikmat kedua adalah; waktu berbuka. Dan itulah gerbang suci yang di sebut nikah. Setelah berpuasa bertahun-tahun lamanya akhirnya kita di izinkan untuk menikmati apa yang sebelumnya haram bagi kita. Maka benarlah nikmat puasa itu salah satunya ada pada waktu berbuka.

Coba bayangkan seandainya kita nekat hendak berbuka sebelum waktu yang Allah izinkan, tentu senikmat apapun masakan Ibu di waktu maghrib nggak senikmat biasanya. Mengapa? Karena kita sedang tidak benar-benar lapar saat menyantapnya. Kira-kira seperti itu jugalah kehidupan cinta seorang insan. Orang yang melakukan –yang hari ini populer di sebut- pacaran, sepertinya tidak akan lagi merasakan nikmatnya berdua bersama istri, nikmatnya ber sms mesra si bidadari, nikmatnya bercanda berdua, karena sebelum waktunya ia telah ‘mencicipi’ hal-hal tersebut. Hmm, kira-kira begitulah pemahaman saya. Atau mungkin mereka bisa merasakan nikmatnya, tapi tidak senikmat mereka yang enggan berpacaran sebelum menikah.

Ada satu lagi kalimat menarik tentang nikah. Nikah itu tentunya Allah temukan kita dengan jodoh yang sudah di siapkan. Bisa siapa saja, bahkan kadang tidak pernah kita duga. Saya pernah mendapat cerita dari guru agama SMA, hehe. Kata beliau, kalau jodoh itu, saat bertemu dengannya di gerbang pernikahan, kita seperti menemukan sesuatu yang selama ini hilang. Maka sangat logis seseorang yang menikahnya berniat benar, ia akan sangat merasakan kebahagiaan. Ia merasa seolah-olah apa yang hilang dari dirinya selama ini telah hadir di hari pernikahannya. Rusuknya yang hilang, kini kembali. Segala sifatnya yang kurang, kini di isi dengan idaman hati.

Lalu, siapakah jodoh itu..? ah, ini sulit. Saya sendiri masih jauh dari kata paham mengenai satu kata ini. Hehe. Mungkin antum jauh lebih paham. Hanya saja, siapa di balik kata ini, ia tentunya bukan orang asing. ‘biasanya’, setidaknya dari apa yang saya lihat dari pernikahan-pernikahan yang saya datangi. Seasing apapun, ‘biasanya’ setidaknya pernah bertemu walau sekali. Contoh saja, orang yang membimbing saya sekitar 4 tahun lamanya. Selidik punya selidik, ternyata istrinya pernah menjadi peserta dalam acara yang beliau isi. Paham maksud saya..? ya, yang saya pahami, selalu pernah ada pertemuan meski tidak di sadari. Hehe, mungkin salah, namun, mengapa tidak bisa di katakan benar kalau banyak pengalaman ternyata seperti itu..?🙂

Banyak hal menarik di balik kata jodoh terlepas dari ‘siapa’nya di balik kata itu sendiri. Salah satunya adalah kalimat yang lumayan masyhur, ‘Kalau Jodoh Nggak kemana..’, agaknya kalimat ini benar. Tapi kita tak boleh lupa, bahwa jodoh bisa berubah dengan doa. Banyak dari kita melupakan kekuatan doa. Dengan doa, bahkan kematian bisa di hindarkan. Subhanallah. Bagaimana doa mampu merubah apa yang telah Allah tetapkan, tentu itu merupakan kehendak Allah bagi siapa saja yang Allah kehendaki. Kita? Tugas kita hanyalah ikhtiar dengan tetap berada di koridor syar’i dan berdoa sebanyak-banyaknya.

Ada doa yang sangat menarik, ini saya ambil dari sampul sebuah novel, kalau nggak salah judulnya “Cinta Terlambat”, jalan ceritanya kurang lebih mirip dengan “Pudarnya Pesona Cleopatra”. Begini kira-kira bunyinya, ‘Banyak orang berdoa agar ia menikahi orang yang di cintainya, namun, doaku sedikit berbeda, dengan rendah hati aku memohon pada Tuhan, agar aku mencintai orang yang aku nikahi’. Masya Allah. Buat saya, itu sebuah doa yang dahsyat. Doa penuh ketawakkalan pada Allah. Doa penuh keyakinan bahwa siapapun orang yang di sandingkan dengan dirinya, ia yakin, bahwa itulah orang terbaik yang Allah pilihkan sebagai pendamping hidup, sebagai penjaga ketaatan, sebagai penyempurna separuh dien.

Mungkin hari ini banyak orang mengatakan, mana mungkin bisa mencintai kalau sebelumnya kita nggak kenal sama sekali? Nggak deket pula. Ah, saya rasa, itu kalimat yang keluar dari lisan orang-orang yang nggak tahan dengan kesepian. Padahal sejatinya Allah selalu menemani dia. Saya rasa itu kalimat yang keluar dari lisan mereka yang ingin melegalkan pacaran. Ada kisah menarik yang ada di sekitar saya. Dua orang, ikhwan dan akhwat. Benar-benar melakukan proses pernikahan yang di atur oleh jamaah. Belum kenal, hanya kenal saat proses taaruf saja. Sampai hari ini awet. Masih meragukan? Atau masih mengatakan harus pacaran dulu..?

Hmm, mungkin ini satu pesan menarik untuk mereka yang pacaran sebelum waktunya. Mengapa teman-teman mau menghabiskan perasaan untuk orang yang belum pasti menjadi pendamping? Mengapa teman-teman mau terpaku pada satu orang yang sekali lagi belum tentu dia yang terbaik buat teman-teman? Hari ini buat saya, hal itu satu ketidakpahaman yang sangat merugikan. Mengapa? Ah, silakan di pikir sendiri. Saya khawatir terlalu menyakitkan hati kalau saya yang menyampaikan.

Rahasia jodoh pula, bahwa kualitas jodoh kita bergantung juga dengan kualitas kita. Antum mau punya istri hafidzah tapi hafalan antum Cuma setengah, setengah juz 30..? hmm. Rasanya kok mustahil. Ingat ayat yang menyebut bahwa laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik? Ayat ini merupakan gambaran dari konsekuensi logis dari pergaulan seseorang dalam kehidupan. Orang yang mainnya sama orang-orang soleh, ya secara logis akan dapat pasangan dari kelompok orang-orang soleh itu pula. Sebab, dia mainnya atau dia bergaulnya hanya dengan orang soleh. Orang yang mainnya cuma di dunia gemerlap, logisnya ya dia akan bertemu dengan pasangannya di tempat itu pula.

Sebenarnya, ini bisa menjadi pengingat. Ketika antum mau berbuat maksiat, bukankah jodoh antum yang jauh di sana juga sedang melakukan maksiat yang sama dengan yang antum lakukan..? ketika antum sedang melakukan ketaatan, bukankah jodoh antum yang jauh di sana juga sedang melakukan ketaatan yang kurang lebih sama dengan yang antum lakukan..? ini bentuk konsekuensi dari laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik..🙂

Lalu, bagaimana dengan mereka orang soleh yang mendapat pasangan yang nggak soleh? Mungkin, Allah memberi jalan hidayah kepada pasangan kita melalui diri kita. Sadarlah, itu berarti Allah sangat mempercayai kita sebagai jalan hidayah. Atau, itu ujian dari Allah. La yukallifullahu nafsan illa wus’aha.

Dari itu kita hanya perlu menyiapkan diri menjadi orang sesoleh mungkin. Berusaha mengejar derajat iman. Tak perlulah berniat yang lain, cukup Allah saja. Biarkan Allah pilihkan untuk kita, dari hambaNya yang beriman. Punya pasangan beriman, solehah, siapa sih yang nggak mau..?

Hmm.. ini sekaligus mengingatkan diri sendiri. Beberapa waktu yang lalu, ada seorang teman yang update Twitter, “aku nggak mau punya suami yang pake celananya cingkrang”. Menarik. Sebetulnya, saya mau mengomentari waktu itu, tapi saya takut menyakiti. Begini saja. Kita sering lupa diri. Ya, lupa diri. Mau pasangan yang luar biasa wah, tapi melupakan bahwa tentunya semua orang menginginkan seperti apa yang kita inginkan. Kita sering lupa diri, bahwa tentunya pasangan kita juga menuntut kualitas yang sama. Kita sering hanya menuntut, mau yang itu, mau yang ini, tapi nggak mau berbenah diri agar pantas dapat sesuai yang di minta. Kita menulis ingin istri yang solehah, kita sudah soleh belum. Itu maksudnya.

Kita juga sering lupa diri, melupakan substansi tujuan kita menikah. Kadang kita hanya memikirkan kebahagiaan dunia. Mengejar ke’wah’an dunia, melupakan ke’wah’an akhirat. Bukan tidak boleh meminta pasangan yang enak dilihat, namun, untuk apa cantik tapi ternyata nggak bisa ngaji terlebih doyan selingkuh..? Coba ingat-ingat apa yang pernah disampaikan pak Mario Teguh. Ada dua orang, yang satu kaya raya, yang satu tidak bisa di sebut kaya dari segi harta. Satu waktu dua orang ini berbincang mengenai harta, gajinya, rumahnya, dan lain lain harta dunia. Jelas si kaya selalu menyindir lawan bicaranya, yang uangnya kurang lah, pakaiannya lusuh lah, rumah kecil lah. Apa jawab si miskin yang sahabat si kaya ini..? Sambil senyum dia menjawab, ‘Aku hidup sederhana, namun di penuhi kebahagiaan. Setiap hari aku bisa bertemu dengan istri dan anak-anakku.. Istriku memang jauh kalah cantik di banding istrimu, namun, tahukah dirimu bahwa istrimu itu bukan istri yang setia..?’.

Sepaham saya, Islam mengajarkan pemeluknya untuk melihat calon pasangan dari karakternya. Karakter berkaitan dengan akhlaknya sehari-hari, jelas, ini persoalan agama. Kepahaman seseorang akan keislamannya jauh lebih Rasulullah utamakan dan ajarkan untuk kita semua dalam memilih pasangan. Bukan utama kecantikan, harta, ataupun keturunan. Saat agamanya baik, terlebih cantik, tak ada alasan kita untuk menolak.🙂

(bersambung..)

4 comments on “Re : Nik*h. Part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s