Tetralogi Buru : Sebuah Rekonstruksi Sejarah

“Seorang terpelajar mestilah adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”

-Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia-

Novel bertemakan sejarah yang menarik. Setidak-tidaknya, membuat lebih mudah memahami bahwa perjuangan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan tidak semudah buku-buku sekolah bercerita, Ir. Soekarno di culik, di bawa ke Rengasdengklok, cekcok dengan golongan muda, kemudian di desak, akhirnya merdeka. Tidak. Sekali-sekali tidak. Pun novel sejarah ini cukup membuat keyakinan bertambah, kebangkitan nasional yang benar bukan atas dasar kelahiran Boedi Utomo kala itu, tapi lebih kepada Syarikat Dagang Islam. Tidak jauh-jauh melebar, bukan tentang itu tulisan ini di susun.

Terbagi ke dalam 4 buku, Tetralogi Buru, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan dengan sudut pandang berbeda, Rumah Kaca, berhasil menyampaikan runutan sejarah yang dikemas apik berupa Novel yang sebenarnya berbobot berat dan tidak sembarangan. Malahan, menurut saya isi Novel Tetralogi Buru ini seakan menyampaikan kejadian nyata sebenarnya terjadi di lapangan kala itu, sebagian besarnya. Kenapa? Tokoh-tokoh dalam cerita muncul sebagai jelmaan tokoh nyata. Sebut saja Gadis Jepara, kalau membaca, kita tentu sadar betul yang di maksud adalah R.A. Kartini. Menarik.

Dalam Bumi Manusia, seri pertama dari Tetralogi Buru ini menceritakan betapa seorang pribumi dapat merubah sudut pandanganya terhadap kehidupan manusia setelah mendapat pendidikan Eropa kala itu. Seperti hari ini, kebiasaan-kebiasaan yang mungkin sakral di tengah masyarakat tetapi sebenarnya jelas-jelas tidak bermanfaat bagi kehidupan di dobrak dengan keras. Sebagai contoh saja, sujud sembah kepada orang yang lebih tua dalam budaya Jawa. Memang, lebih banyak Jawa yang di ‘serang’ di buku ini, tentu karena mengambil latar Jawa sebagai suku tokoh utamanya, Minke.

Dalam Bumi Manusia pula diceriterakan, betapa menjadi seorang Pribumi tiadalah apa-apanya di hadapan Pengadilan Putih. Kan mirip-mirip dengan dunia hari ini. Masyarakat biasa, hampir-hampir tidak bisa menang kalau harus berhadapan dengan Penguasa di hadapan Hukum. Sebetapapun benarnya Pribumi, kalau sudah berurusan hukum dengan Gubermen, Belanda, ya akan kalah. Pun agaknya istilah Pengadilan Putih pada masa itu sekaligus untuk menyindir, Pengadilan itu hanya untuk orang kulit putih saja, bukan untuk Pribumi yang berkulit cokelat.

Bumi Manusia di tutup dengan kekalahan Minke dan Nyai Ontosoroh di tandai di bawanya Annelies ke Belanda untuk di temukan dengan keluarga aslinya. Nah, kata-kata Nyai Ontosoroh menarik di akhir Bumi Manusia, “kita telah melawan Nak Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya”, meskipun di dalam Bumi Manusia terdapat banyak sekali kalimat-kalimat yang semestinya menyadarkan tiap jiwa yang merasa terpelajar. Kelanjutan tentang Annelies yang di bawa ke Belanda di utarakan di awal-awal buku kedua, Anak Semua Bangsa. Sangat sangat singkat, hanya dari telegram, dan Annelies ‘di matikan’ oleh Pramoedya Ananta Toer. Permulaan Anak Semua Bangsa di mulai dengan sebuah kekalahan yang luar biasa pada diri Minke.

Berbeda dengan Bumi Manusia yang bisa kita lihat Minke sangat berpandangan kepada Eropa, dalam Anak Semua Bangsa, Minke ‘terjun’ ke masyarakatnya sendiri, ke bangsa Hindia, atau Indonesia hari ini. Seakan-akan kita di beritahu, Minke sedang membuka mata atas bangsanya sendiri setelah selama ini tersilaukan dengan segala-gala yang berbau Eropa. Banyaknya, memang diceritakan bagaimana permasalahan tanah dan perkebunan antara Kolonial dengan pribumi.

Seakan-akan Pram berpesan kepada setiap Pribumi yang berhasil mencapai pendidikan tinggi, bukalah mata..! Bangsamu lebih membutuhkanmu. Dalam Anak Semua Bangsa di munculkan keprihatinan, sebaik-baik Eropa, Pribumi tetaplah tertindas. Kan mirip dengan kenyataan hari ini. SDA Indonesia memang melimpah, tapi apa artinya kalau asing yang menikmati? Sedang Pribumi menjadi kuli di negri sendiri. Sekiranya Anak Semua Bangsa memang menggambarkan betapa seorang terpelajar haruslah kembali kepada bangsanya, tidak boleh tidak.

Konspirasi Pabrik Gula yang diceritakan, juga mengingatkan betapa berhasilnya rekayasa sosial yang dilakukan kolonial, bahkan hingga hari ini, pun di catat dalam buku-buku sejarah dan di ajarkan di sekolah. Di Sekolah, di ajarkan betapa baiknya Belanda yang mendirikan sekolahan sebagai wujud balas budi atas kerja-kerja Pribumi. Padahal, kalau kita telisik, sekolah-sekolah itu hanya mencerdaskan Pribumi, namun tidak membebaskan status kuli dari Pribumi. Setinggi-tingginya pendidikan Pribumi dari sekolah Belanda, tetaplah jadi budak Gubermen, jadi kuli.  Perih? Memang begitulah keadaannya masa lalu sedang kita hari ini tidak menyadarinya.

Kesadaran harus melawan ketidakadilan kolonial timbul dalam jiwa Minke di Anak Semua Bangsa. Namun, Minke belum memahami bagaimana cara melawan paling efektif sehingga manfaat yang timbul lebih besar dari kejelekannya. Akan tetapi kita seakan-akan di ajari, bahwa lewat menulis, kita bisa melawan. Begitulah yang dilakukan Minke. Sebenarnya sejak awal, namun semenjak di Anak Semua Bangsa lah tulisan-tulisan Minke mulai membela Pribumi. Tentang menulis ini, dalam Bumi Manusia di sampaikan oleh Magda Peters, Guru di sekolah Minke, “Kalian boleh menjadi apapun, tetapi selama kalian tidak mencintai sastra, maka kalian hanya hewan yang sedikit lebih pintar”. Tulisan! Demikian hebat pengaruhnya kala itu, pun sampai hari ini. Mungkin inilah salah satu hikmah mukjizat Alquran, Mukjizat sastra atau kata-kata.

Kalau terus kita ikuti cerita, kita akan menyadari betapa seorang diri, tetaplah tidak berarti. Apalagi Minke di panas-panasi oleh istrinya yang kedua, seorang Tiong Hoa, Ang San Mei, yang di kira-kira terlibat dalam pergerakan pemuda di Negri asalnya, untuk segera mengorganisasikan Pribumi. Hal ini dapat kita telusuri dalam Jejak Langkah. Betapa pada bagian awal, jelas-jelas rongrongan untuk mengorganisasikan massa Pribumi dihembuskan dari segala arah kepada Minke. Puncaknya, hembusan untuk mengorganisasikan Pribumi terjadi saat Minke mendengarkan pidato seorang Dokter tua di sekolahnya, STOVIA.

Dalam Jejak Langkah, di susunkan betapa beratnya usaha membentuk sebuah Organisasi untuk melakukan pembelaan terhadap Pribumi. Lalu melawanlah Minke dengan organisasi, dan dengan tulisan sebagai media menampakkan perlawanannya, Medan. Sedang organisasi yang di dirikan Minke adalah S.D.I. menarik. Inilah yang menimbulkan persangkaan, bahwa Pram sedang menyampaikan kenyataan. Meskipun entah bagaimana kebenarannya.

Yang menarik pada masa itu, koran benar-benar kunci mengendalikan opini publik. Koran di gambarkan juga merupakan alat politik untuk menjaga keamanan sesuatu konspirasi. Utamanya yang diberikan contoh dalam tetralogi ini adalah Konspirasi Pabrik Gula. Maka dalam Jejak Langkah, Minke mendirikan koran Pribumi pertama, Medan, untuk mencerdaskan pribumi, dengan menggunakan bahasa melayu sebagai pengantar sajiannya. Pada hari ini, media pun menguasai opini, kan begitu? Orang begitu mudah percaya apa yang dimunculkan di TV. Bahkan kadang tak mengerti bahwa ada fakta yang sedang di putar, baik itu tentang Terorisme atau tentang yang lain.

Pram juga membumikan dalam Jejak Langkah betapa kita mesti mendidik Penguasa, pun juga mendidik masyarakat, dalam pesannya, “Didiklah penguasa dengan perlawanan, dan didiklah masyarakat dengan organisasi.”. Meskipun perlawanan dapat kita artikan tidak melulu jalur kekerasan. Penguasa musti kita didik, kalau-kalau berlaku kezhaliman dalam bekerjanya. Pun masyarakat, musti di cerdaskan, musti di sadarkan. Betapa mereka sebenarnya kelompok yang paling besar terkena imbas kalau-kalau pihak penguasa melakukan kezhaliman.

Jejak Langkah diselesaikan oleh Pram dengan penangkapan Minke di rumahnya, sembari menggambarkan adegan betapa sebenarnya pengikut setia Minke salah satunya adalah pembantunya. Penangkapan Minke ini pun menarik, bukan karena Medan yang mencerca Gubermenn. Pangemanann yang menangkap, justru menyatakan Minke di tangkap karena tidak membayarkan hutang yang sudah lama mendapat teguran, namun tidak mendapatkan jawaban dari Minke.

Buku terakhir, Rumah Kaca, justru mengambil sudut pandang bukan dari Pribumi atau Minke. Tapi justru dari Kolonial, sudut pandang Pangemanann yang ternyata agen-agen Gubermen. Rumah Kaca menyampaikan pesan-pesan yang luar biasa bagi aktivis pergerakan manapun, ingat, manapun..! Gejolak perlawanan tidak melulu akan dihancurkan dengan senjata atau penumpasan. Namun penumpasan itu dapat berwujud lain, nah di situlah Pangemanann bekerja. Lalau baca buku keempat, bikin merinding. di buku ke-empat diceritakan betapa bahayanya orang-orang yang kerjaannya “Merekayasa Sosial”. Mengerikan memang, namun menarik untuk di perhatikan.

Pada akhirnya, Pram berhasil menyampaikan apa-apa yang mungkin tidak di sampaikan oleh orang lain. Kolonial, tetap saja kolonial, tidak akan ada perbedaan. Dan Pribumi harus menyadarinya, harus menyadari bahwa merekalah pemilik penuh tanah airnya, bukan yang lain.

—————————————————————————————————————————————————-

Saya sangat merekomendasikan buku ke empat..

By Septa Ryan Hidayat Posted in Opini

4 comments on “Tetralogi Buru : Sebuah Rekonstruksi Sejarah

  1. Buku keempat kk merekomendasikan yeh? tapi tetep kan buku pertama yang sensasional, untuk menumbuhkan jiwa romantisme😀

    buku keempat kalu dibaco jadi agak2 cakmano rasonyo, karena tokoh aku nyo di situ Pangemanann, licik nian wong nyo…

    tapi memang bagus sih karya Kakek Pram ni,
    saking penasaran ane cubo cari di literat siapo Mas Minke ini, ruponyo ado di salah satu karya pram yang lain, non fiksi, agak membosankan kalu di baco. dan setahu ana, sudah dak pernah dicetak lagi, ane pun cuma dapat fotokopiannyo pas di banten.. Judulnyo R.M. Tirto Adhisuryo, Essai bentuknyo. lengkap nian nyeritoke apo yang ado di Anak Semua Bangsa dan Jejak Langkah disertai dengan kutipan dan Lampiran2 sertra kliping2 dari surat2 kabar jaman itu.

    • Bumi Manusia : Revolusioner!😀

      Menariknya Rumah Kaca, adalah kita bisa memahami bagaimana konspirasi itu bekerja, orang yg terbaik justru adalah penjahatnya, dan kita akan paham bagaimana pikiran penguasa penindas setiap menyikapi gerakan2 perlawanan dg demikian banyak logika2 “penumpasan” yg mungkin bisa digunakan. Mengerikan!🙂

      Kakak kemarin ada nemu karya Pram yg lain, Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer (Catatan Pulau Buru). Naskah Pram yg belum sempat dicetak dalam buku. Menarik!😀

  2. Ke-4 roman itu menceritakan tentang petualangan (alam pikiran) seorang tokoh pribumi di masa kolonial yang hampir saja dimaki “Monkey!” oleh guru Belanda-nya (namun segera si Guru memelesetkannya menjadi “Minke!” dan segeralah menjadi sebutan teman-temannya). Di mulai dari Bumi Manusia yang menceritakan semasa Minke sekolah dan menikah dengan Annelies, gadis indo-belanda. Namun, ketidakadilan terhadap pribumi terus datang bertubi. Annelies diharuskan mengikuti hukum kaum Belanda hingga terpaksa harus dikirim ke Netherland. Dalam Anak Semua Bangsa dikisahkan sampai ajalnya bersambut di Negeri Kincir Angin itu, dalam keterasingan dalam kesendirian Annelies meninggal. Tragis!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s