Random #3

Saat sebuah memoar terlontar keluar dari rekaan.
Langit seakan mampu & selalu mampu menangkapnya.
Awan-awan itu selalu saja mengatakan kami tidak tahu !

Sampai hadir semilir angin menyampaikan pesan.
Jangan pernah tanyakan pada awan-awan itu !
Tanyakan pada hatimu, sedang apa jatuhmu di sini ?

Himpitan sang bumi tiba-tiba terasa begitu memabukkan.
Ya, tidak menyakitkan.. Namun memabukkan..
Lalu dahan-dahan mulai bernyanyi, Sedang apa disini ?

Ketika bulan mulai mendekat dan menampakkan senyuman.
Inilah waktu dawai-dawai mulai terputus.
Rekam peristiwa mulai terhapus..

Ah, terlalu naïf.!
Sadarkah diri, hati sering berteriak.
Terhapuskah, dihapuskah?

Beginilah adanya awan, beginilah adanya bulan.
Ia berlembut laku, namun tak menjawab tanyaku.
Beginilah adanya semilir angin, beginilah adanya hentakan bumi.
Ia tak boleh kaku, namun hanya memerintahku !

Lalu seberkas cahaya datang.
Haruskah pergi, atau tetap di sini ?
Bukankah aku berhak bahagia, seperti yang lain ?

==============================================================

Malam setelah menulis Mukkadimah itu, fikir ku terhenyak, diam ku terkaku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s