Ujian..

“Hanya ranting-ranting tua bisa patah. Batang muda tetap meliuk kena terjang badai..”

-Nyai Ontosoroh, Jejak Langkah (Tetralogi Buru)-

Permasalahan memang sunnatullah untuk hadir. Besar maupun kecil, intra maupun ekstra. Masalah bisa juga di sebut ujian. Sedang ujian selalu hadir untuk meningkatkan diri kita, entah siapapun pemberinya; manusia atau Tuhan. Ujian juga kadang menjatuhkan. Wajar, namanya ujian. Yang menarik, nyatanya ujian tak selalu berbentuk kekurangan, kesempitan, ataupun kesakitan dalam bentuk kata yang lainnya. Ujian justru seringnya hadir dalam bentuk berlebih-lebihan bagi manusia-manusia tertentu. Dan itu hanya masing-masing pribadi yang bisa memahami.

Ujian-ujian itu datang sesuka hati. Tak kenal waktu. Peduli apa dengan matahari, terbitnya atau terbenamnya. Ujian selalu datang. Ya dengan masalah, ya dengan lebih. Yang kita tahu pasti, ujian itu tadi, selalu untuk meningkatkan peringkat kita di mata tiap-tiap pemberinya. Kadang memang ujian hadir dengan berita, dengan kabar sejak sebelum di mulainya. Inilah keuntungan untuk kita, kita mengetahui terjadinya. Tak mengawang-awang, tak asal-asalan. Jikalau begitu, kita bisa menyiapkan diri, bisa mengetahui apa-apa yang di butuhkan untuk menghadapinya. Nah, bagaimana kalau kita tidak menyadarinya..?

Yang sulit memang kalau-kalau kita sendiri tidak menyadari sedang di uji. Seringnya kita jadi merutuki pemberi ujian, kalau begitu hasilnya pasti, gagal. Mengapa? Belum apa-apa sudah merutuk, mengutuk. Belum mencoba, belum berusaha. Sudah begitu, merasa benar sendiri, tanpa peduli pendapat orang lain. Menyeramkan bukan..? gagal di mata pemberi ujian, pun gagal di mata masyarakat yang menilai. Gagalnya kuadrat, dua kali, atau malah berefek domino ke yang lain.

Ada baiknya kita berfikir sebelum berjalan, seminimalnya ke arah mana kita bertujuan. Seminimalnya. Kalau mampu, justru sampai destinasi berikutnya, dengan catatan destinasi awal selesai dengan kata sukses. Pun, sampai mengetahui masalah apa yang akan kita hadapi. Seandainya saja, itu semua selesai, tak mungkin kita langsung merutuki di awal bertemu dengan masalah atau ujian tersebut. Toh, kita memahami, inilah jalan yang kita ambil, dan inilah resikonya.

Kadang juga, ujian itu hadir bertubi, tak kenal henti, seakan tak memahami yang di ujinya sedang berposisi lemah, sedang lesu tak berdaya. Ya, itu hak yang menguji. Pengawas pun tak akan peduli. Ah, apalagi pengawas..? pihak mereka hanya tahu yang di uji itu sudah siap dan harus di awasi selama menjalani ujian yang di berikan. Merutuki pengawas sama saja bodohnya dengan merutuki diri sendiri. Sama-sama tak tahu, sama-sama berada di luar kawasan penguji. Pengawas hanya tahu, amanahnya harus selesai dengan nilai A di mata penguji. Meskipun terkadang mereka pun tahu, ujian yang mereka awasi rasa-rasanya terlalu berat untuk yang di uji.

Tapi kadang rasa-rasa lesu itu justru tumbuhnya dari dalam diri kita sendiri. Justru kita sendiri yang melemahkan diri sendiri. Menyorak-nyoraki hati sendiri kalau kita ini tak mampu, tak pantas, sedang lelah, sedang lesu, bahkan membisiki dengan semangatnya kalau kita akan gagal menghadapi ujian yang sedang melanda. Ah, jangan buru-buru menyalahkan syaitan. Jangan lupakan syaitan itu pun dari golongan jin dan manusia, manusia..! Kan ada kemungkinan diri kita sendirilah syaitannya..? bukan begitu..?

Justru Penguji Yang Utama jauh-jauh sudah menyatakan, la yukallifullahu nafsan illa wus’aha. Tak akan di uji manusia dengan ujian yang melebihi kemampuannya. Nah, kita sendirilah yang kadang membesar-besarkan sesuatu yang sebenarnya kita mampu. Kan begitu..? sampai-sampai kalau kita perhatikan karakteristik ujian yang kita terima dari selainNya hampir-hampir persis seperti itu. Kan begitu..?

Pun, dalam perjalanan menghadapi ujian-ujian, akan ada yang kita korbankan. Yang tidak jujur mengorbankan kejujurannya demi nilai tertinggi, yang jujur kadang harus mengorbankan nilainya demi keberkahan proses yang di jalani. Akan banyak yang di korbankan, jadi biasakan saja. Toh, kita pasti tahu yang mana yang paling bisa di korbankan. Toh, Allah berjanji tak akan sia-siakan hambaNya.

===========================================================================

Di Ruang ‘Kerja’.
Entah kenapa..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s