Kitab Al-Hikam : Insan Terjaga

Kitab Al Hikam

“Aku menulis dan aku yakin pada saat aku menulisnya tanganku kan lenyap, namun tulisan tanganku kan abadi..”

Perjalanan jiwa seorang anak manusia dalam mencapai Sang Khalik bukanlah perjalanan mulus. Banyak duri menghadang di jalan yang berliku-liku. Tak hanya itu, hempasan badai juga siap melemparkan seorang salik (penempuh jalan) dari tujuan mulianya. Maka, hanya orang-orang yang berilmu dan berhati baja yang sanggup melewati jalan tersebut, mendaki sampai puncak kemenangan, menghadap Al-Haq Sang Pencipta. Mereka bergeming dari berbagai godaan di dunia, tak mau terjebak dalam kehidupan berbalut syahwat di alam fana.

Untuk menuntun setiap salik agar tetap bertahan di jalan menuju Sang Khalik itu, ulama besar Syeikh Ibn ‘Atha’illah menghadirkan Kitab Al-Hikam ini. Dengan sandaran utama pada Al-Qur’an dan as-Sunnah, guru besar spiritualisme ini menyalakan pelita untuk menjadi penerang bagi setiap salik, menunjukkan segala aral yang ada di setiap kelokan jalan, agar kita semua selamat menempuhnya.

Matan Al-Hikam, kitab setebal 558 halaman ini, adalah sebuah karya yang ringkas, menggugah  dan penuh makna, syarahnya yang panjang dan tak habis-habis. Al-Hikam patut menjadi pelajaran para penulis atau pembicara agar tidaklah tertuang satu kalimat kecuali yang padat manfaat. Tulisan bergizi tidak sibuk berindah-indah tapi lupa pada hujjah. Tapi tidak pula abaikan cara bertutur sehingga pembaca sulit mengunyah. Karya bergizi, dibaca yang awam ia mencerdaskan dan memahamkan, sementara dibaca yang berilmu ia mencerahkan dan tak membosankan. Sebuah karya yang bergizi terasa ringan karena bagusnya cara bertutur dan berbobotnya isi. Maka, asyiklah membacanya dan tak membosankan. Tapi tak setiap yang mengasyikkan saat membaca, bukan jaminan bergizi. Maka, periksa hujjahnya. Sungguh, penulis yang berharap betul barakah dari tulisannya, ia tak segan mematut diri berlama-lama agar pena tak menebar kesalahan. Mereka menulis apa yang penting, bukan yg menarik. Maka mereka tak sibuk memuji karya sendiri. Tidak pula menyibukkan diri memikat orang, apalagi untuk membenci atau sekadar menilai kelemahan. Kebaikan telah memenuhi seluruh jiwa raga mereka. Ah, dimana maqam kita..?

========================================================================

Mengingatkan, agar menjadi pembeda.

Agar kita tetap berbeda..

By Septa Ryan Hidayat Posted in Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s