Aku Introvert

Suatu waktu engkaupun bertanya. “Bertahun lamanya bersama, melewati hampir segala hal, menyaksikan segala peristiwa. Tapi, semacam ada kisah terputus, tak berkelanjutan, tak terkisah.” Lalu dengan menundukkan hati, padamu aku sampaikan. “Sesungguhnya sekarang kita hidup dalam bangsa yang sakit, tidak memikirkan kecuali tentang diri mereka sendiri. Yang hanya ingin mereka tahu, bahwa masih ada sekelompok manusia yang berbuat, bekerja memperbaiki umat, hingga kelak akhirnya mereka meyakini kebenaran agama ini. Maka, tak perlu perlihatkan apa yang telah kita korbankan, rasa sakit yang lama tertahan, dan pundak yang penuh beban. Cukuplah mereka menyaksikan apa yang mampu kita lakukan, maka lakukanlah yang terbaik. Dan karena engkau mempersaksikan bahwa aku adalah saudara yang kau cintai karena Allah, maka kuharap engkau adalah orang yang terlebih dahulu memahami dibandingkan siapapun. Dan saksikanlah, bahwa aku juga mencintaimu karena Dzat yg menjadikanmu mencintaiku karena Allah..” Baca lebih lanjut

Iklan
By Septa Ryan Hidayat Posted in Opini

Buya Hamka dan Pram

KAMMI MADANI

b1Beberapa waktu lalu saya memang getol membacai karya sastra Pramoedya Ananta Toer meski baru sekian kelumit dari banyaknya buku yang ia tulis. Semangat atas asupan dari tulisan Pram membuat saya semakin giat membaca karya sastra yang saya akui baru-baru ini saja saya hinggapi.

Saya percaya tidak ada suatu kebetulan di dunia ini. Nah, usai membaca sekitar empat karya Pram saya beranjak membaca buku berjudul ‘Ayah..’ karya Irfan Hamka, anak Buya Hamka. Ternyata oh ternyata dalam tulisan yang mengulaskehidupan sosok luar biasa seperti Buya Hamka tertera juga sedikut ulasan mengenai hubungan Pram dan Hamka pada masa mereka masih hidup.

Saya bukan sekali dua kali mendengar bahwa sosok Pram merupakan pentolankomunis (PKI) yang menggawangi bidang sastra. Meski belum mendalam, saya jugapernah mendengar dan sedikit tau tentang Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang dinahkodai Pram sendiri. Namun latar belakang ini bagi saya tidak baik untuk dijadikan penghalang kita membacai karya-karyanya. Framing awal terhadap penulis…

Lihat pos aslinya 527 kata lagi

By Septa Ryan Hidayat Posted in Opini

Sabar

Sabar itu suatu kemanisan. Sukar ditepis saat teruji. Namun, karena kesabaran itu, ia mengajar arti ketabahan..

Sabar juga mengajar arti memahami. Karena kesabaran itu mendidik untuk berakhlak..

Melalui kesabaran itu, aku belajar menghargai.. Dari titik kesabaran itulah aku mengenal arti pekerti..

Rasulullah SAW seorang yang penyabar. Walau ramai ujian dan rintangan dalam menyebarkan dakwah, baginda tetap sabar dan istiqomah dalam perjuangan..

Aku hendak meneladani akhlak Ar-Rasul, sebenar-benarnya tauladan, suri tauladan kehidupan sepanjang zaman.

Mengapa perlu mengeluh saat teruji? Sebab, kebiasaan mengeluh dengan sesuatu yang sebenarnya masih dalam kemampuan kendali, hanya akan membuatmu semakin terpuruk saat diuji dengan sesuatu yang mampu melemahkanmu.. Baca lebih lanjut

Random #10

Aku memang menjauh,
Tapi hatiku masih terpaut, di tempat yang sama
Seperti yang pernah ku katakan padamu
Nanti, aku akan kembali lagi
Menemui yang ku harap masih tegar di sana

Ya, ini bukan selamat tinggal
Tapi sampai jumpa lagi… Baca lebih lanjut

By Septa Ryan Hidayat Posted in Opini

Belajar Tentang Kesederhanaan

“Kamu nggak perlu dapet nilai 9 atau 10, yang penting nilaimu rata-ratanya 8..”
-Almarhum Papa, di suatu kesempatan-

Ada yang pernah memperhatikan angka 8? Iya, 8, delapan, angka setelah 7, dan sebelum 9. Angka berjarak 2 langkah dari Sepuluh. Pernah? Entah kenapa, angka itu menarik. Baik dari segi bentuk, maupun dari sudut pandang manusia sebagai pembelajar, sebagai makhluk pengumpul hikmah yang berserakan di dunia ini. Bukankah hikmah itu terserak, dan siapa saja yang memungutnya maka hikmah itu menjadi miliknya?

Dalam sistem penilaian nol sampai sepuluh, angka delapan agaknya mengajari bagaimana menjadi seseorang yang sederhana. Bukan sesuatu usaha yang mudah untuk mendapatkan nilai delapan dalam suatu ujian. Kan begitu? Pun yang menarik, meskipun berada di bawah nilai sembilan ataupun sepuluh, dia yang mendapat nilai delapan tetap orang yang dipandang. Kan lagi-lagi begitu? Angka delapan dalam sistem penilaian nol sampai sepuluh tidak akan pernah bisa disombongkan, tidak akan pernah bisa terlalu dibangga-banggakan, sebab, ada yang berada di atasnya, yaitu mereka yang mendapat nilai sembilan dan sepuluh. Tapi toh pemilik nilai delapan, tidak akan pernah bisa sekalipun diremehkan. Siapa yang bisa meremehkan, kalau delapan itu merupakan nilai yang tinggi, bahkan terkadang, angka itulah angka terbesar dari hasil suatu ujian, sekali lagi siapa bisa meremehkan? Baca lebih lanjut