Sejenak Hening

Kita berada dalam era keriuhan. Kita ditarik secara tak sadar ke dalam dua kehidupan, maya dan nyata. Sebagai makhluk sosial, kita hampir-hampir melupakan diri sendiri tersebab harus berada dalam dua dunia itu untuk memenuhi segala panggilan tuntutan keeksisan.

Dalam era keriuhan, kita butuh keheningan sejenak.

Keheningan sejenak mengajarkan kita untuk kembali mengenali diri. Keheningan memberikan tawaran kesempatan bagi diri untuk kembali sadar, bahwa banyak keping kebahagiaan yang telah kita lepas begitu saja. Kita kehilangan banyak sadar untuk menikmati hari-hari dengan penuh kedamaian dan kenikmatan.

Dalam era keriuhan, kita butuh bersejenak dalam hening. Bersejenak dalam hening mengantarkan kita kepada ketaktergesa-gesaan untuk menyikapi hari demi hari dengan ambisi yang menggalaukan, dan kenangan masa lalu yang mencekam langkah untuk menggamit banyak kebaikan di masa depan. Hingga diri terlupa bahwa hari ini tercipta untuk dinikmati indahnya.

Berheninglah sejenak. Bersejenaklah dalam hening. Akan banyak makna dan keindahan dalam hidup yang kita dapatkan… Baca lebih lanjut

Iklan

Senandung Terlupakan

Pemimpi-pemimpi besar itu
Telah ditelan zaman
Gagasan, pengajaran.
Mengorbit, mengitari garis lintang
Berkeliaran bolak-balik
Khatulistiwa ke khatulistiwa
Tanpa pengakuan
Bermodal ajaran, bermodal petuah
Harga diri, etos kerja, sikap mandiri

Kan kusenandungkan, mereka yang terlupakan
Jiwamu mengawang
Harimu selesai sudah
Kau bawa semua aurora
Selagi puisi terdeklamasikan
Sebenderang siang dituturkannya
Senandung dendang hati

Tuhanku..
Limpahkan istirahat abadi
Bagi mereka, para pengukir janji
Berjuta tadahan tangan
Usapan wajah harap
Ridho Mu, hanya Kau
Perkenankanlah…

Beribu mereka, tak berpusara, tak dicatat
Membusuk, tak berpatung, tak bertugu
Hanya dalam sanubari melegenda
Sebelum bertemu, tetap ditunggu

Manalah sejarah kuat melupa seluruh masa
Istana, rumah, penjara
Sudut kota kan bersaksi
Pertempuran melahirkan pahlawan

Walau tak mengerti
Kucatat peristiwa ini
Bukan untuk dihantamkan
Jutaan bocah sepertiku, kala itu
Tak ada yang istimewa
Dengarkan saja..

Runduk tafakur bagi mereka yang mundur
Gugur kala melarikan diri
Tertembak di jalanan, terapung di kuala
Dikenal tak dikenal sama saja
Bocah kecil orang dewasa
Sukarelawan, pengecut, pemberani
Semua yang terlibat, hidup atau mati

Selamat bagi yang kalah
Angkat tabik beri hormat
Panjatkan do’a…

Baca lebih lanjut

Random #9

Entah hati yang tertambat
Terik mentari
Jalan berliku, nyanyian anak kecil
Syahdu merpati pagi, jelitanya anggrek mekar
Bertebaran di dahan  pepohonan
Melingkari danau-danau teduh bermisteri

Kurangkul seisinya
Hatiku bernyanyi, kunikmati kebebasan
Mencintai semua, damai di setiap pori
Saling menghargai, meski tak mengenal
Terbuka hati, satu irama

Telah berkali kusapa Tuhan
Di tebing sungai, di kesunyian hutan
Di keheningan telaga danau
Di deburan ombak pantai
Di arus sungai biru
Di malasnya sungai mengalur
Simfoni seruling, tiupan angin di belantara

Kenapa kita usik kedamaian ini?
Ratap ketidakadilan melangit
Betapa hati terluka
Aku datang, saudaraku
Kupeluk kau, semegap hatiku..

Baca lebih lanjut

Random #8

Ingat jalan ini, kawan?
Yah, tentu! Kau pasti kenal dengan segenap inchi tubuhmu
Ribuan langkah telah kau jejakkan di rute ini. Sama denganku.
Ingat dengan tangga jalan itu?
Tiap anak tangga menjadi saksi kaki yang berjalan tertatih, ataupun berlari

Ah, ya….
Pasti kau ingat dengan tebaran mahkota bunga berwarna ungu itu
Yang membuat kita seperti berada di jepang
Yang membuatku selalu terpana ketika angin menerbangkannya ke arahku
Aku tau kau pun merasakan yang sama

Debu-debu yang beterbangan setiap jejak langkah kita pun menjadi saksi kenangan kita
Bertahun kita tlah bersama,
Beribu hari menjadi batu bata penyusun dinding bangunan ukhuwah itu
Debu pun bersaksi…
Kenangan kita akan abadi…
Baca lebih lanjut

Random #7

Bertubi-tubi uji kesempitan, biasanya justru menguatkan. Seperti angin kencang saat memanjat setonggak galah, kita semakin menggenggam..

Namun, satu saja uji keleluasaan, biasanya sangat mampu menjatuhkan, menggelincirkan.

Tonggak-tonggak keyakinan kadang memang bergoyang, apalagi kalau pondasinya lemah, tak berpijak dengan kuat.

Sering gemetar kalau membaca apalagi melihat langsung orang-orang yang gigih menggigit kebenaran. Menjaga, agar tak terkorbankan..

Kenapa menggigit..? Sebab tangan dan kaki putus, tak mampu menahan arus penolakan. Menggigit..? Jalan terakhir.

Upaya maksimal menjaga kebenaran, agar tak mati di telan zaman. Jelas, katanya yang mulia, ia akan seperti menggenggam bara api.

Ujung-ujungnya hanya hati. Bentuk selemah-lemahnya penolakan terhadap kedzaliman atas apapun, selemah-lemah iman. Di mana maqam kita..?

Ah, mendung. Malam beberkah sejuk bagi lahir maupun batin. Selamat menikmati wahai manusia..

Baca lebih lanjut