Sejenak Hening

Kita berada dalam era keriuhan. Kita ditarik secara tak sadar ke dalam dua kehidupan, maya dan nyata. Sebagai makhluk sosial, kita hampir-hampir melupakan diri sendiri tersebab harus berada dalam dua dunia itu untuk memenuhi segala panggilan tuntutan keeksisan.

Dalam era keriuhan, kita butuh keheningan sejenak.

Keheningan sejenak mengajarkan kita untuk kembali mengenali diri. Keheningan memberikan tawaran kesempatan bagi diri untuk kembali sadar, bahwa banyak keping kebahagiaan yang telah kita lepas begitu saja. Kita kehilangan banyak sadar untuk menikmati hari-hari dengan penuh kedamaian dan kenikmatan.

Dalam era keriuhan, kita butuh bersejenak dalam hening. Bersejenak dalam hening mengantarkan kita kepada ketaktergesa-gesaan untuk menyikapi hari demi hari dengan ambisi yang menggalaukan, dan kenangan masa lalu yang mencekam langkah untuk menggamit banyak kebaikan di masa depan. Hingga diri terlupa bahwa hari ini tercipta untuk dinikmati indahnya.

Berheninglah sejenak. Bersejenaklah dalam hening. Akan banyak makna dan keindahan dalam hidup yang kita dapatkan… Baca lebih lanjut

Iklan

Belajar Tentang Kesederhanaan

“Kamu nggak perlu dapet nilai 9 atau 10, yang penting nilaimu rata-ratanya 8..”
-Almarhum Papa, di suatu kesempatan-

Ada yang pernah memperhatikan angka 8? Iya, 8, delapan, angka setelah 7, dan sebelum 9. Angka berjarak 2 langkah dari Sepuluh. Pernah? Entah kenapa, angka itu menarik. Baik dari segi bentuk, maupun dari sudut pandang manusia sebagai pembelajar, sebagai makhluk pengumpul hikmah yang berserakan di dunia ini. Bukankah hikmah itu terserak, dan siapa saja yang memungutnya maka hikmah itu menjadi miliknya?

Dalam sistem penilaian nol sampai sepuluh, angka delapan agaknya mengajari bagaimana menjadi seseorang yang sederhana. Bukan sesuatu usaha yang mudah untuk mendapatkan nilai delapan dalam suatu ujian. Kan begitu? Pun yang menarik, meskipun berada di bawah nilai sembilan ataupun sepuluh, dia yang mendapat nilai delapan tetap orang yang dipandang. Kan lagi-lagi begitu? Angka delapan dalam sistem penilaian nol sampai sepuluh tidak akan pernah bisa disombongkan, tidak akan pernah bisa terlalu dibangga-banggakan, sebab, ada yang berada di atasnya, yaitu mereka yang mendapat nilai sembilan dan sepuluh. Tapi toh pemilik nilai delapan, tidak akan pernah bisa sekalipun diremehkan. Siapa yang bisa meremehkan, kalau delapan itu merupakan nilai yang tinggi, bahkan terkadang, angka itulah angka terbesar dari hasil suatu ujian, sekali lagi siapa bisa meremehkan? Baca lebih lanjut

Belajar dari Perselisihan Ikhwan

Sebelumnya ada yang pernah membaca buku ini? Kitab Aku dan Al-Ikhwan Al-Muslimin karya Dr. Yusuf Al-Qaradhawi yang mengutip beberapa kisah di masa lalu. Ada beberapa kisah menarik yang beliau sampaikan, beberapa di antaranya yang masih lekat di ingatan saya adalah kisah awal bergabungnya seseorang yang banyak disebut sebagai ideolog kedua Ikhwan, Sayyid Qutb.

Menariknya adalah, saya dahulu termasuk salah seorang pembaca yang sedikit dibuat “shock” begitu mengetahui latar belakang ideologi beliau yang lantang menentang pemikiran Ikhwan pada saat itu, tapi sejarah kemudian berkata lain. Atau juga yang mengisahkan tentang siapa yang memerintahkan untuk menghukum gantung beliau, yang tidak lain adalah salah satu mantan murid ideolognya sendiri, adalah Gamal Abdul Nasser, yang dahulu di masa-masa awal turut bersama-sama bergabung dalam jamaah ikhwan,  menarik! Tapi bukan tentang itu yang ingin saya sampaikan pada tulisan kali ini. Baca lebih lanjut

Re : Nik*h. Part 2

(Lanjutan..)

Seperti bagian sebelumnya, tulisan ini bukan untuk menggambarkan “keterburu-buruan” menikah. Bukan, bukan itu. Ini tulisan hanya tuangan dari kepahaman selama ini, juga apa yang penulis tahu tentang kata itu. Dan sengaja dibuat dengan judul yang sedikit aneh dan sangat tidak sensasional, karena penulis berkeyakinan, untuk bahasan mengenai tema ini selalu menarik, dan berharap tidak menjadikan tulisan ini sebagai rujukan utama, tapi sebagai pelengkap apa yang selama ini difahami. Dan teringat salah satu kicauan sobat di Twitter, mengumpulkan semua teori, untuk menciptakan teori-teori baru. Allahu’alam, mari kita lanjutkan..

Tanpa pacaran, lantas harus seperti apa? Atau bagaimana cara terbaik untuk meminang? Hmm. Sebentar. Saya khawatir banyak orang menyangka, kita ini nggak boleh jatuh cinta pada seseorang. Afwan kalau selama ini saya termasuk orang yang membahasakan seperti itu. Tidak saudaraku, jatuh cinta itu nggak haram. Itu fitrah yang tidak bisa dielakkan oleh manusia. Hanya saja, bagaimana kita membingkai ‘jatuh cinta’ itu yang dapat menjadikannya haram. Sampai melupakan Allah bahkan mengambil hak-hak Allah? Jelas, itu tentu haram. Sampai berani menyentuh yang bukan haknya? Sampai membuat lagu mau berbuat apapun ingat si dia..? Ya rabbana, jangan sampai. Ingat hadits, segalanya berawal dari niatan. Begitu pula jatuh cinta kita. Bahkan di hadits tersebut Rasulullah singgung mengenai niat karena ‘perempuan yang ingin di nikahinya..’. strategi awal yang kita –khususnya saya- perlu lakukan adalah mengembalikan segala niatan pada Allah ta’ala. Rabbul asbab. Rabb segala sebab yang ada. Baca lebih lanjut

Re : Nik*h. Part 1

Nikah. Apa yang pertama kali muncul sebagai reaksi kalau saya tulis kata nikah?. Tidak, ini bukan tulisan yang menggambarkan “keterburu-buruan” menikah. Bukan, bukan itu. Ini tulisan hanya tuangan dari kepahaman saya selama ini, juga apa yang saya tahu tentang kata itu, Nikah. Ini juga sebagai salah satu persiapan saya menuju ke sana, sebab seorang ustadz saja menyiapkan dirinya selama 5 tahun sebelum menikah. Saya? 5 tahun lagi..? Hmm.. kita lihat saja nanti.. 🙂

Waktu masih duduk di bangku sekolah, ada satu bab pelajaran agama mengenai hal ini, Munakahat. Bagaimana ia menjadi wajib, bagaimana ia menjadi sunnah, bagaimana ia menjadi makruh, bahkan bagaimana ia menjadi haram untuk di lakukan. Menarik ketika satu amalan bisa bertransformasi menjadi segala hukum dalam pengamalannya. Dan itulah salah satunya, Nikah. Satu amal, bisa berbeda-beda hukum, bergantung pada kondisi seseorang itu sendiri. Dan nikah selalu di kaitkan dengan kata puasa. Ingin namun belum mampu, silakan berpuasa. Baca lebih lanjut