Belajar dari Perselisihan Ikhwan

Sebelumnya ada yang pernah membaca buku ini? Kitab Aku dan Al-Ikhwan Al-Muslimin karya Dr. Yusuf Al-Qaradhawi yang mengutip beberapa kisah di masa lalu. Ada beberapa kisah menarik yang beliau sampaikan, beberapa di antaranya yang masih lekat di ingatan saya adalah kisah awal bergabungnya seseorang yang banyak disebut sebagai ideolog kedua Ikhwan, Sayyid Qutb.

Menariknya adalah, saya dahulu termasuk salah seorang pembaca yang sedikit dibuat “shock” begitu mengetahui latar belakang ideologi beliau yang lantang menentang pemikiran Ikhwan pada saat itu, tapi sejarah kemudian berkata lain. Atau juga yang mengisahkan tentang siapa yang memerintahkan untuk menghukum gantung beliau, yang tidak lain adalah salah satu mantan murid ideolognya sendiri, adalah Gamal Abdul Nasser, yang dahulu di masa-masa awal turut bersama-sama bergabung dalam jamaah ikhwan,  menarik! Tapi bukan tentang itu yang ingin saya sampaikan pada tulisan kali ini. Baca lebih lanjut

Iklan

Partisipasi Politik dan Regenerasi Kepemimpinan

Ada beberapa salah kaprah yang berkembang di kalangan mahasiswa & masyarakat dalam memahami karakter kehidupan politik. Saya akan menyebut beberapa contoh saja.

Pertama, anggapan bahwa politik adalah dunia yang kotor. Anggapan ini jelas tak salah seluruhnya, hanya saja kurang lengkap. Kita mengenal sebuah ungkapan terkenal dalam dunia politik : “Kekuasaan cenderung korup/rusak, dan kekuasaan yang diselenggarakan secara mutlak akan korup secara mutlak pula!”.

Pandangan ini sebetulnya mewakili paham realis/pragmatis tentang politik. Dalam dunia real, politik memang arena dimana korupsi dan penyimpangan kerap terjadi. Semua orang -tak peduli beragama atau tidak- akan rentan terjebak dalam ‘hukum besi politik’ semacam itu. Karena itu, tak salah seluruhnya manakala publik punya persepsi bahwa politik adalah kotor.

Yang kurang tepat adalah melakukan demoralisasi atas kenyataan politik yang kotor semacam itu. Di sini, moralisasi berarti melihat kenyataan dari sudut pandang moralitas berdasarkan hukum baik-buruk. Ujung sikap semacam ini cenderung merendahkan dunia politik, sebab ia adalah dunia kotor yang kurang bermartabat. Mereka yang masuk dalam sektor itu dilihat dengan sinis dan skeptis!.

Sikap yang lebih tepat adalah realisme-kritis. Dengan sikap ini, kita mengakui watak politik yang memang bisa disalahgunakan dan dikorupsi. Justru karena itu, politik dan kekuasaan haruslah dikontrol, bukan dijauhi dan dipandang rendah.

Mekanisme kontrol itu, dalam sistem demokrasi di Indonesia (catatan : saya tidak akan memperdebatkan tentang sistem apa yang paling baik di sini) dilembagakan melalui institusi “check-and-balance”,  yakni proses saling mengontrol antara lembaga-lembaga di dalam dan luar kekuasaan, dalam hal ini negara. Melalui mekanisme inilah terjadi proses saling mengimbangi antara satu lembaga dan lembaga lain, semisal lembaga legislatif dengan eksekutif, pemerintah dengan media massa, eksekutif dengan kekuatan-kekuatan masyarakat sipil, dan lain sebagainya.

Demokrasi modern didasarkan pada “su’udzan” atau prasangka buruk pada watak kekuasaan yang cenderung korup, dan karena itu harus dikontrol dengan ketat, bukan dibiarkan dan dijauhi. Melalui kontrol ini, keliaran dan kejahatan yang secara intrinsik terdapat dalam kekuasaan dan politik bisa dijinakkan pelan-pelan. Melalui kontrol itu, politik/kekuasaan mengalami proses penghalusan & perbaikan. Baca lebih lanjut

By Septa Ryan Hidayat Posted in Opini Dengan kaitkata

Penyakit Kronis Itu Bernama : Plagiarisme Tak Bermoral

(Sebuah otokritik dunia Akademisi : Mahasiswa & Dosen)

Krisis moral terjadi di mana-mana. Mencuatnya berbagai kasus korupsi, terutama kasus mafia hukum atau praktik makelar kasus terakhir ini, telah menunjukkan betapa moralitas kita sebagai anggota masyarakat, bangsa dan negara sangat memprihatinkan. Saat kasus para penegak hukum tengah dihebohkan akibat  diungkap oleh Komjen Polisi Susno Duadji, tiba-tiba muncul pula kehebohan tentang plagiarisme di dunia kampus. Dan masalah ini menjadi bahan diskusi menarik di berbagai kalangan, pasca terungkapnya tulisan seorang guru besar salah satu universitas yang mengirimkan tulisan di media massa yang ternyata adalah jiplakan karya seorang penulis lain. Dan tersangka sudah mengakui perbuatan tercelanya dan dia yang sempat menjadi dosen berstatus CPNS sudah mengundurkan diri, sebelum mau dipecat. Pandangan masyarakat kemudian menuding dunia pendidikan, sebuah lembaga yang menurut masyarakat berisi orang-orang kompeten dan jujur, telah melakukan tindakan terlarang. Masyarakat mengecam dunia pendidikan, yang adalah dunia yang harusnya jauh dari urusan jiplak-menjiplak, telah tercemar. Beberapa argumen menuding lembaga pendidikan kita telah kehilangan arah.

Kasus plagiarisme yang terjadi di kalangan akademis merupakan masalah akut. Tentu saja ini memprihatinkan mengingat kalangan akademis semestinya adalah pihak yang paling serius dalam mengaplikasikan etika penulisan ilmiah. Banyaknya plagiarisme menunjukkan lemahnya kontrol, penegakan, dan barangkali, pendidikan seputar etika akademis. Dan juga, di sisi lain, memperlihatkan lemahnya kreativitas berpikir (sehingga perlu menjiplak pemikiran orang lain), merajalelanya keserakahan (demi mengejar nama besar, kredit point, atau gelar), dan tentu saja, ketidakjujuran plus kemalasan yang memalukan. Malas dalam berpikir, berusaha, berlogika, menganalisis, atau mencari sumber-sumber yang kredibel. Maunya serba tersedia, tanpa repot-repot berpikir!

Plagiarisme sendiri adalah tindakan menjiplak, mengkopi, sebagian atau keseluruhan karya tulis orang lain. Pengutipan tulisan atau pendapat orang lain sesungguhnya dibolehkan tapi dengan ketentuan harus menyebut sumbernya. Bila hal itu dilanggar maka merupakan pelanggaran berat, menyangkut etika dan moral yang sanksinya sangat berat dalam dunia tulis menulis.

Baca lebih lanjut

Tatsqif : PEMILU Menurut Islam

Pemilu dan Partai Politik
(Yd. I)

Rasulullah SAW dan para shahabat tidak pernah ikut pemilu dan berpartai sebab pemilu dan partai belum ada dan hanya merupakan perkembangan politik seiring berkembangnya zaman. Namun sebagian umat Isalam termasuk beberapa ulama mengharamkan berpartai termasuk mengikuti pemilu, mereka beralasan bahwa partai, demokrasi, dan pemilu merupakan karya dari orang-orang kafir. Sebagian dari mereka sampai mengeluarkan statemen unik, yaitu bahwa ikut pemilu dan menjalankan partai merupakan sebuah bid’ah dhalalah, di mana pelakunya pasti akan masuk neraka. Alasan tersebut tidak bisa dijadikan dalil yang sharih untuk mengharamkannya. Baca lebih lanjut

Mengapa GOLPUT di-HARAM-kan?

Ada beberapa alasan keharaman GOLPUT, antara lain adalah :

  1. Bahwa calon2 pemimpin kita dan CALEG2 kita tidak semuanya beragama Islam. Dapat kita bayangkan jika semua umat Islam GOLPUT, maka Pemimpin kita semuanya bukan orang Islam (kafir), sedangkan menjadikan orang kafir sebagai pemimpin hukumnya HARAM, sebagaimana firman Alloh SWT dalam surat Al-Maidah ayat : 51 (baca) GOLPUT = MENGANGKAT ORANG KAFIR MENJADI PEMIMPIN.
  2. Kalau seandainya semua pemimpin kita tidak amanah, maka kita wajib memilih pemimpin yang lebih sedikit khianatnya, hal ini sesuai dengan kaidah yang telah dirumuskan oleh para ulama : “Jika ada dua kerusakan, maka ambillah kerusakan yang paling ringan untuk menghindari kerusakan yang lebih besar.” GOLPUT = MEMBIARKAN TERJADINYA KERUSAKAN YANG LEBIH BESAR
  3. Ada yang mengatakan bahwa jika kita memilih pemimpin, kemudian pemimpin tersebut berdusta, maka kita ikut berdosa juga. Ini merupakan FATWA YANG SESAT DAN MENYESATKAN tidak ada landasan sama sekali bahkan bertentangan dengan hadits sahih riwayat Ahmad dan Bukhari yang berbunyi : “Mereka sholat bersama kamu sebagai imam, jika mereka benar mereka berpahala dan kamu berpahala dan jika mereka bersalah, mereka berdosa dan kamu tetap berpahala.“ (H.R. Ahmad dan Bukhari) Dalam hadits ini Rasul mengatakan : “Jika imam salah, imam berdosa dan orang yang menunjuknya sebagai imam berdosa pula. Ini berarti bahwa apapun kesalahan yang dilakukan seorang pemimpin, dia sendiri yang akan menanggungnya, bahkan dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa seorang pemimpin yang mengkhianati rakyatnya, Alloh akan haramkan syurga atasnya.
  4. Dalam surat Ar-Rum ayat 2-4 menerangkan terjadinya peperangan antara dua kerajaan besar, yaitu Romawi dan Persia. Menyikapi peperangan ini sahabat Rasul tidak abstain alias GOLPUT, mereka mendukung Romawi. Ketika Romawi kalah sahabat nabi bersedih hati, sehingga Alloh memperkenankan harapan mereka untuk memenangkan Romawi dengan turunnya surat ini. Dalam ayat 3-4 Alloh menerangkan bahwa Romawi akan menang kembali dan pada saat itu para sahabat akan bergembira. Mengapa sahabat mendukung Romawi? Karena Romawi beragama Nasrani yaitu ahlul kitab sedangkan Persia beragama Majusi. Ahlul kitab lebih dekat kepada Islam dibandingkan Majusi. SESUNGGUHNYA PEMILU ADALAH PERANG SUARA, KALAU ANDA INGIN ORANG ISLAM MENANG, MAKA BERIKAN SUARA ANDA KEPADA MEREKA
  5. Ada juga yang mengatakan bahwa Demokrasi adalah system kufur, maka kita tidak boleh mengikutinya. Ini juga FATWA YANG SALAH. Islam tidak mengharamkan nama. Islam mengharamkan bentuk perbuatannya. Kalau Islam mengharamkan nama, maka kita tidak dapat tinggal di Indonesia. Maka, ketika kita menaati peraturan lalu lintas, perpajakan, dan peraturan-peraturan yang tidak bertentangan dengan Islam, maka kita tidak berdosa.

Memilih pemimpin yang beragama Islam merupakan perintah Alloh. Jadi, kita sebagai umat Islam yang mencintai kedamaian dan keadilan,, sudah tidak ada lagi untuk kata2 tidak memilih alias golput -atas nama netralitas- Mari kita berikan suara kita kepada mereka yang amanah yang menjadikan Al-Quran dan sunnah Rasul sebagai pedomannya…

(Utz. Legawan Isa)