Senandung Terlupakan

Pemimpi-pemimpi besar itu
Telah ditelan zaman
Gagasan, pengajaran.
Mengorbit, mengitari garis lintang
Berkeliaran bolak-balik
Khatulistiwa ke khatulistiwa
Tanpa pengakuan
Bermodal ajaran, bermodal petuah
Harga diri, etos kerja, sikap mandiri

Kan kusenandungkan, mereka yang terlupakan
Jiwamu mengawang
Harimu selesai sudah
Kau bawa semua aurora
Selagi puisi terdeklamasikan
Sebenderang siang dituturkannya
Senandung dendang hati

Tuhanku..
Limpahkan istirahat abadi
Bagi mereka, para pengukir janji
Berjuta tadahan tangan
Usapan wajah harap
Ridho Mu, hanya Kau
Perkenankanlah…

Beribu mereka, tak berpusara, tak dicatat
Membusuk, tak berpatung, tak bertugu
Hanya dalam sanubari melegenda
Sebelum bertemu, tetap ditunggu

Manalah sejarah kuat melupa seluruh masa
Istana, rumah, penjara
Sudut kota kan bersaksi
Pertempuran melahirkan pahlawan

Walau tak mengerti
Kucatat peristiwa ini
Bukan untuk dihantamkan
Jutaan bocah sepertiku, kala itu
Tak ada yang istimewa
Dengarkan saja..

Runduk tafakur bagi mereka yang mundur
Gugur kala melarikan diri
Tertembak di jalanan, terapung di kuala
Dikenal tak dikenal sama saja
Bocah kecil orang dewasa
Sukarelawan, pengecut, pemberani
Semua yang terlibat, hidup atau mati

Selamat bagi yang kalah
Angkat tabik beri hormat
Panjatkan do’a…

Baca lebih lanjut

Iklan

Random #9

Entah hati yang tertambat
Terik mentari
Jalan berliku, nyanyian anak kecil
Syahdu merpati pagi, jelitanya anggrek mekar
Bertebaran di dahan  pepohonan
Melingkari danau-danau teduh bermisteri

Kurangkul seisinya
Hatiku bernyanyi, kunikmati kebebasan
Mencintai semua, damai di setiap pori
Saling menghargai, meski tak mengenal
Terbuka hati, satu irama

Telah berkali kusapa Tuhan
Di tebing sungai, di kesunyian hutan
Di keheningan telaga danau
Di deburan ombak pantai
Di arus sungai biru
Di malasnya sungai mengalur
Simfoni seruling, tiupan angin di belantara

Kenapa kita usik kedamaian ini?
Ratap ketidakadilan melangit
Betapa hati terluka
Aku datang, saudaraku
Kupeluk kau, semegap hatiku..

Baca lebih lanjut

Random #8

Ingat jalan ini, kawan?
Yah, tentu! Kau pasti kenal dengan segenap inchi tubuhmu
Ribuan langkah telah kau jejakkan di rute ini. Sama denganku.
Ingat dengan tangga jalan itu?
Tiap anak tangga menjadi saksi kaki yang berjalan tertatih, ataupun berlari

Ah, ya….
Pasti kau ingat dengan tebaran mahkota bunga berwarna ungu itu
Yang membuat kita seperti berada di jepang
Yang membuatku selalu terpana ketika angin menerbangkannya ke arahku
Aku tau kau pun merasakan yang sama

Debu-debu yang beterbangan setiap jejak langkah kita pun menjadi saksi kenangan kita
Bertahun kita tlah bersama,
Beribu hari menjadi batu bata penyusun dinding bangunan ukhuwah itu
Debu pun bersaksi…
Kenangan kita akan abadi…
Baca lebih lanjut

Random #6

Aku tak pernah bertanya, kemana bulan yang separuh kan, Tuhan..?
Sebab aku tahu Purnama tak melulu indah

Aku tak pernah bertanya, kemana awan-awan itu berarak pergi kan, Tuhan..?
Sebab aku tahu kemanapun ia, pasti akan hadir kembali…

Aku tak pernah bertanya, mengapa dedaunan ini hijau kan Tuhan..? atau air begitu jernih, langit begitu biru, matahari begitu tegar tanpa ragu, gegunungan begitu gagah, iya kan Tuhan..?

Semuanya.. sebab aku yakin, bukan aku tidak peduli. Aku yakin akan kuasa-Mu, dan takkan mungkin Engkau menjadikan sesuatu yang buruk bagi siapapun jua..

Benarkan, Tuhan..?

Namun..

Kalau kemudian aku duduk termangu dengan kecamuk pertanyaan yang bercampur aduk dengan perasaan, di sebuah taman yang hijau.. apakah aku salah, Tuhan..?

Kemampuan “iqra’” ku jatuh, rabaan imanku tertutup peluh..
Kalau kemudian jemari lemahku mengetuk pintu-Mu, mencari pertolongan serta ampunan, apakah aku salah..?
Kan, aku masih hamba-Mu..?

Kalau kemudian aku meminta dengan titik air mata, mampukan aku menjaga orang yang kusayangi dengan kedua tangan, kedua kaki, serta lisan ini, apakah aku Engkau izinkan, Tuhan..?
Kan, aku masih hamba-Mu..?

Kalau kemudian aku meminta kepada-Mu, untuk menjadikan aku mampu, apakah aku salah Tuhan..?
Ya.. semuanya.. adalah kehendak-Mu.. bukan aku..
Benarkan, Tuhan..?

Baca lebih lanjut

Random #4

Ada yang sedang menanggalkan
kata-kata yang satu demi satu
mendudukkanmu di depan cermin.

Dan membuatmu bertanya.
Tubuh siapakah gerangan
yang kukenakan ini?

Ada yang sedang diam-diam
menulis riwayat hidupmu.
Menimbang-nimbang hari lahirmu.
Mereka-reka sebab-sebab kematianmu.

Ada yang sedang diam-diam,
berubah menjadi dirimu.. Baca lebih lanjut

By Septa Ryan Hidayat Posted in Opini Dengan kaitkata