Senandung Terlupakan

Pemimpi-pemimpi besar itu
Telah ditelan zaman
Gagasan, pengajaran.
Mengorbit, mengitari garis lintang
Berkeliaran bolak-balik
Khatulistiwa ke khatulistiwa
Tanpa pengakuan
Bermodal ajaran, bermodal petuah
Harga diri, etos kerja, sikap mandiri

Kan kusenandungkan, mereka yang terlupakan
Jiwamu mengawang
Harimu selesai sudah
Kau bawa semua aurora
Selagi puisi terdeklamasikan
Sebenderang siang dituturkannya
Senandung dendang hati

Tuhanku..
Limpahkan istirahat abadi
Bagi mereka, para pengukir janji
Berjuta tadahan tangan
Usapan wajah harap
Ridho Mu, hanya Kau
Perkenankanlah…

Beribu mereka, tak berpusara, tak dicatat
Membusuk, tak berpatung, tak bertugu
Hanya dalam sanubari melegenda
Sebelum bertemu, tetap ditunggu

Manalah sejarah kuat melupa seluruh masa
Istana, rumah, penjara
Sudut kota kan bersaksi
Pertempuran melahirkan pahlawan

Walau tak mengerti
Kucatat peristiwa ini
Bukan untuk dihantamkan
Jutaan bocah sepertiku, kala itu
Tak ada yang istimewa
Dengarkan saja..

Runduk tafakur bagi mereka yang mundur
Gugur kala melarikan diri
Tertembak di jalanan, terapung di kuala
Dikenal tak dikenal sama saja
Bocah kecil orang dewasa
Sukarelawan, pengecut, pemberani
Semua yang terlibat, hidup atau mati

Selamat bagi yang kalah
Angkat tabik beri hormat
Panjatkan do’a…

Baca lebih lanjut

Iklan

Belajar dari Perselisihan Ikhwan

Sebelumnya ada yang pernah membaca buku ini? Kitab Aku dan Al-Ikhwan Al-Muslimin karya Dr. Yusuf Al-Qaradhawi yang mengutip beberapa kisah di masa lalu. Ada beberapa kisah menarik yang beliau sampaikan, beberapa di antaranya yang masih lekat di ingatan saya adalah kisah awal bergabungnya seseorang yang banyak disebut sebagai ideolog kedua Ikhwan, Sayyid Qutb.

Menariknya adalah, saya dahulu termasuk salah seorang pembaca yang sedikit dibuat “shock” begitu mengetahui latar belakang ideologi beliau yang lantang menentang pemikiran Ikhwan pada saat itu, tapi sejarah kemudian berkata lain. Atau juga yang mengisahkan tentang siapa yang memerintahkan untuk menghukum gantung beliau, yang tidak lain adalah salah satu mantan murid ideolognya sendiri, adalah Gamal Abdul Nasser, yang dahulu di masa-masa awal turut bersama-sama bergabung dalam jamaah ikhwan,  menarik! Tapi bukan tentang itu yang ingin saya sampaikan pada tulisan kali ini. Baca lebih lanjut

Tatsqif : Ambiguitas Aktivis Dakwah

Seorang aktivis dakwah kampus pernah mengeluhkan tentang kondisi kader dakwah yang –tanpa sengaja–mendikotomikan antara aktivitas dakwah dan ibadah dalam perilakunya. Ada aktivis dakwah yang yang begitu aktif – penutur tersebut mengistilahkan dengan aktivis dakwah yang ‘haroki’, namun lemah dalam hal ruhiyahnya. Dan ada pula aktivis dakwah yang rajin ibadahnya, atau kuat ruhiyahnya, namun aktivitas dakwahnya tidak menonjol.

Mungkin sudah menjadi gejala di kampusnya, karena ketika fit and proper test untuk pemilihan Badan Pengurus Harian di lembaga dakwah itu, salah seorang calon ditanyakan tentang tindakannya apabila menemui dua karakter jundi yang berbeda: salah seorangnya haroki namun kurang ma’nawi, dan seorang yang lain berkebalikannya. Baca lebih lanjut

Tatsqif : Keniscayaan Sebuah Pengorbanan!

Wajah dunia Islam kita adalah lukisan sebuah bangsa yg selamanya sendu, kelam, kekanakan, dan serba amburadul. Darah dan air mata seakan tumpah di tanah kita tiada henti.

Hanya satu hakikat yang membuat kita sampai kini masih tetap yakin. Luka ini, suatu saat pasti sembuh. Hakikat itu sunatullah. Ia menentukan sesuatu selalu ada batasnya.

Kebesaran, dalam sejarah, selalu harus dibayar dengan harga mahal. Sebab, pohon kebesaran suatu umat hanya dapat tumbuh di taman sejarah, yang disirami air mata kesedihan dan darah pengorbanan.

Baca lebih lanjut

Penyakit Kronis Itu Bernama : Plagiarisme Tak Bermoral

(Sebuah otokritik dunia Akademisi : Mahasiswa & Dosen)

Krisis moral terjadi di mana-mana. Mencuatnya berbagai kasus korupsi, terutama kasus mafia hukum atau praktik makelar kasus terakhir ini, telah menunjukkan betapa moralitas kita sebagai anggota masyarakat, bangsa dan negara sangat memprihatinkan. Saat kasus para penegak hukum tengah dihebohkan akibat  diungkap oleh Komjen Polisi Susno Duadji, tiba-tiba muncul pula kehebohan tentang plagiarisme di dunia kampus. Dan masalah ini menjadi bahan diskusi menarik di berbagai kalangan, pasca terungkapnya tulisan seorang guru besar salah satu universitas yang mengirimkan tulisan di media massa yang ternyata adalah jiplakan karya seorang penulis lain. Dan tersangka sudah mengakui perbuatan tercelanya dan dia yang sempat menjadi dosen berstatus CPNS sudah mengundurkan diri, sebelum mau dipecat. Pandangan masyarakat kemudian menuding dunia pendidikan, sebuah lembaga yang menurut masyarakat berisi orang-orang kompeten dan jujur, telah melakukan tindakan terlarang. Masyarakat mengecam dunia pendidikan, yang adalah dunia yang harusnya jauh dari urusan jiplak-menjiplak, telah tercemar. Beberapa argumen menuding lembaga pendidikan kita telah kehilangan arah.

Kasus plagiarisme yang terjadi di kalangan akademis merupakan masalah akut. Tentu saja ini memprihatinkan mengingat kalangan akademis semestinya adalah pihak yang paling serius dalam mengaplikasikan etika penulisan ilmiah. Banyaknya plagiarisme menunjukkan lemahnya kontrol, penegakan, dan barangkali, pendidikan seputar etika akademis. Dan juga, di sisi lain, memperlihatkan lemahnya kreativitas berpikir (sehingga perlu menjiplak pemikiran orang lain), merajalelanya keserakahan (demi mengejar nama besar, kredit point, atau gelar), dan tentu saja, ketidakjujuran plus kemalasan yang memalukan. Malas dalam berpikir, berusaha, berlogika, menganalisis, atau mencari sumber-sumber yang kredibel. Maunya serba tersedia, tanpa repot-repot berpikir!

Plagiarisme sendiri adalah tindakan menjiplak, mengkopi, sebagian atau keseluruhan karya tulis orang lain. Pengutipan tulisan atau pendapat orang lain sesungguhnya dibolehkan tapi dengan ketentuan harus menyebut sumbernya. Bila hal itu dilanggar maka merupakan pelanggaran berat, menyangkut etika dan moral yang sanksinya sangat berat dalam dunia tulis menulis.

Baca lebih lanjut